5 Tips Ampuh Aktif Menulis Bagi Pemula

1. Menulis jurnal harian

Udah lama rasanya nggak nulis di blog. Biasanya nulis keseharian cuma di DayOne, sebuah aplikasi iOS yang berfungsi sebagai pencatat jurnal harian. Biasanya saya curhat di DayOne, nulis status yang malu kalau ditulis di media sosial di DayOne, nulis kalau lagi kesal di DayOne, semuanya di DayOne. Biasanya saya pasang reminder 2 kali sehari, siang dan malam buat nulis apa yang sudah saya lakukan dalam beberapa waktu. Ini cukup sukses membuat saya terbiasa menulis. Tulisan yang tercipta nggak panjang-panjang. Biasanya saya hanya menulis beberapa paragraf dilengkapi dengan sebuah foto. Kadang merasa kurang nyaman kalau menulis di layar smartphone, saya instal DayOne juga di komputer saya yang tersinkronisasi dengan DayOne mobile. Jadi kalau saya sedang berada di hadapan komputer saya bisa tetap menulis dengan lancar. Buat teman-teman yang mau mencoba bisa didownload di AppStore. Aplikasi ini bermanfaat untuk meningkatkan kebiasaan menulis teman-teman.

2. Tingkatkan kecepatan mengetik

Bicara menulis ada baiknya juga saya bicara tentang http://typingweb.com. Dulu saya berpikir bahwa mengetik sepuluh jari tidak terlalu penting pada saat menulis di komputer. Hal itu membuat saya terbiasa mengetik dengan 11 jari selama lebih dari 12 tahun. 11 jari adalah metode mengetik yang terkenal di kalangan pemula komputer seperti saya pada saat itu dengan menggunakan kedua telunjuk. Saya belajar mengetik pertama kali pada saat saya masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. Pada saat itu ayah saya baru saja membeli sebuah PC bepentium 3 dengan operating system Windows 98. Pada saat itu internet masih belum sebooming sekarang, orang-orang di lingkungan saya waktu itu masih mengenal komputer sebagai perangkat offline yang dapat menggantikan fungsi mesin tik sebagai media penulisan dokumen cetak. Namun kurang lengkap rasanya jika komputer tidak ada permainannya. Di dalam komputer itu juga terdapat permainan seperti Fifa 98, Tarzan, dan Roadrash. Dengan tujuan bermain game saya pun mulai mengenal keyboard.

Semakin tahun teknologi semakin berkembang dengan pesat. SD saya saat itu pun akhirnya menyediakan lab komputer. Biasanya hal yang menyenangkan saat saya masih sekolah di sekolah dasar ada 3; yaitu pada saat pelajaran olahraga, pelajaran komputer, dan pada saat jam istirahat. Saya cukup senang pada saat itu dengan pelajaran komputer terutama dengan saat-saat sudah menyelesaikan modul. Kami dibebaskan menggunakan komputer untuk bermain game asalkan modul hari itu telah dikerjakan. Saya biasanya termasuk orang yang lambat menyelesaikan modul. Maklum, biasanya pada saat tugas mengetik saya lebih fokus pada formatting dan desain daripada menyelesaikan ketikan terlebih dahulu. Untuk memilih jenis font ataupun warna saja saya bisa habisakan beberapa waktu yang cukup lama. Ditambah lagi dengan kecepatan mengetik saya yang lambat. Maklum saya hanya gunakan dua telunjuk sedangkan teman saya sudah lebih canggih ada yang 4 jari sampai lebih.

Kebiasaan mengetik dengan jari telunjuk bertahan hingga saya kuliah pada saat semester 1. Sampai akhirnya saya sadar ketika melihat orang-orang disekeliling saya sudah mulai mengetik dengan menggunakan 10 jari. Hingga akhirnya di malam yang dingin dan gabut saya iseng mencari aplikasi typing tutor hingga akhirnya saya menemukan TypingWeb. TypingWeb menjadi pilihan saya karena selain gratis juga layanan ini menyediakan statistik perkembangan kita. Selama tidak sampai 4 hari saya belajar menggunakan 10 jari secara aktif ketika mengetik dan saya mengalami kemajuan yang sangat pesat. 1 minggu setelah saya mengikuti program yang disediakan oleh TypingWeb saya sudah lancar mengetik aktif menggunakan 10 jari saya. Mengetik 10 jari ini sangat membantu saya dalam mengetik. Membiasakan mengetik dengan melihat monitor juga membantu saya untuk mengetik dengan lebih cepat. Mengetik cepat juga akan berdampak pada keluwesan saya dalam menuangkan isi fikiran dalam bentuk kalimat.

3. Membaca

Ini adalah salah satu kunci dalam menulis. Erat kaitannya dan tidak bisa dipisahkan. Saya merasakan bahwa dengan membaca alam bawah sadar kita akan dengan mudah mengubah fikiran kedalam kalimat pada saat menulis. Membaca membantu kita memperluas wawasan dan mengatur alur berpikir serta membantu menyusun pola kalimat. Konstruk kalimat yang kita tulis bahkan sering kali dipengaruhi dengan gaya bacaan kita. Kita bisa perhatikan bagaimana seorang yang rajin baca berita online menyusun kalimat, bagaimana seorang yang rajin baca novel menyusun kalimat, dan bagaimana seorang yang rajin baca journal dalam bahasa inggris menyusun sebuah kalimat. Selain itu membaca juga dapat membantu kita memiliki banyak kosa kata yang nantinya dapat digunakan pada saat kita menulis. Hal ini penting agar tulisan kita tidak monoton dengan gaya bahasa dan kosakata yang itu-itu saja. Kebiasaan membaca bisa diawali dengan sering membaca berita online atau bila perlu belilah koran karena biasanya koran memiliki jangkauan kosakata yang lebih luas daripada berita online terutama pada kolom-kolom opini.

Sedikit selingan beberapa waktu yang lalu teman saya sempat ada yang bertanya kepada saya kenapa saya masih membeli koran dibanding memilih membaca berita online gratis di internet. Menarik untuk dijawab. Saya baru memiliki kebiasaan membaca koran atau sekedar melihat-lihat gambar-gambar di koran semenjak kuliah. Saya sering beli koran Kompas di Tokema, sebuah toko mahasiswa di lingkungan kampus. Pasalnya koran Kompas di sana dijual dengan harga mahasiswa yaitu 2000 rupiah. Ini membuat saya setiap hari membeli koran Kompas pada saat waktu istirahat makan siang tiba. Perlu saya sampaikan bahwa dengan membeli sebuah koran saya secara psikologis akan merasa rugi apabila tidak membaca koran yang saya beli. Sehingga saya menjadi terpaksa membaca halaman per halaman. Favorit saya adalah kolom opini, karena biasanya bahasa dan alur berfikirnya menarik. Berbeda dengan media online. Biasanya berita media online hanya saya skimming atau sekedar baca headline. Untuk media online saya paling senang baca Kompasiana. 

4. Beropini

Beropini adalah salah satu cara yang saya percaya cukup ampuh untuk menumbuhkan semangat menulis. Beropini secara tertulis dapat dilakukan dimana saja. Yang paling sederhana adalah di media sosial seperti twitter, facebook, ataupun path yang sedang booming. Namun ada yang perlu diperhatikan pada saat beropini di media sosial. Media sosial seperti twitter memiliki batasan karakter yang terpaksa harus dipatuhi. Terbiasa menulis dalam 140 karakter kadang dapat membuat kemampuan kita menysun paragraf menjadi sedikit berkurang. Pasalnya walaupun ringkas, 140 karakter biasanya hanya cukup untuk diisi dnegan 1 atau 2 kalimat saja. Sehingga jika ada waktu menulis di blog atau di media yang tidak memiliki batasan karakter perlu dicoba sesekali.

5. Jangan takut untuk memulai

Mulailah dengan hal yang sederhana seperti yang saya sudah sampaikan di atas. Menulis jurnal harian atau ngtweet juga bisa dijadikan awal menuju tulisan yang lebih besar. Saya rasa blog telah menyediakan fasilitas itu. Dimana kita bisa berpendapat tanpa batasan karakter sedikitpun. Untuk saat ini saya telah memulai itu dan telah cukup merasakan manfaatnya walaupun belum seberapa dibandingkan dengan penulis-penulis ternama. Lumayan kan kalau udah terbiasa menulis kalau ada tugas ataupun skripsi jadi sedikit terbantu. Apapun medianya baik itu di media elektronik ataupun menulis analog dengan kertas adalah dua hal yang sama pentingnya.

Semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman sekalian. Nantikan saja tulisan saya selanjutnya.

 

Advertisements

Orang-orang Mirip Nyoman Anjani Dari Perempuan Sampai Laki-laki

Entah mirip atau tidak, lima orang dibawah ini katanya mirip dengan presiden kabinet mahasiswa ITB, Nyoman Anjani. Konon katanya, Kak Nyoman Anjani ini dinobatkan sebagai Presiden Mahasiswa tercantik se-Indonesia lho.

Dan kata beberapa orang dan kata saya juga sih lima orang di bawah ini mirip. Entah bagaimana pendapat anda? Siapa sajakah mereka? Yuk kita simak.

1. Raihannur Reztaputra (STEI 2013)

20131117-032535 PM.jpg
Foto di atas saya ambil di sekretariat UKMR ITB. Raihannur Reztaputra (STEI 2013) dianggap oleh orang se-sekre mirip dengan Nyoman Anjani. Hmmm…

2. Hayuningtias Rahmani Budiastuti (Mikrobiologi 2011)

20131117-032432 PM.jpg
Dan foto di atas adalah foto Nyoman Anjani dnegan mahasiswa bernama Hayuningtias Rahmani Budiastuti (Mikrobiologi 2011) saat sedang diadakannya kumpul salah satu kemenkoaan di bawah kabinet kak Nyoman di selasar CC Barat ITB. Bagaimana menurut anda? Mirip atau tidak?

3. Mirna Nurfutriani

564292_3524349985347_470808318_n
Nah, ini adalah foto Mirna Nurfutriani, anak ITB 2013 yang kata teman saya juga mirip sama Kak Nyoman Anjani. Nahlo!

4. Kelsi Sawitri (Fisika 2011)

999515_3263569604533_1507942431_n

Yang satu ini juga mirip, namanya Kak Kelsi Sawitri (Fisika 2011). Beliau waktu OSKM sempat jadi pendiklat saya juga sama Kak Udin. Hehehe

5. Aghnia Whibby (Electrical Power Engineering 2012)

1069329_10200454322820761_1281311521_n

Nah, yang ini namanya Aghnia Whibby (Electrical Power Engineering 2012). Nggak kenal sih, Tapi memang mirip.

20131117-033508 PM.jpg
Ini hanya foto saya, kak Nyoman, dan Debby. Tidak ada miripnya dengan Kak Nyoman sih, tapi ada yang bilang bahwa orang yang di sebalah kanan dan sebelah kiri itu katanya mirip. Ah entahlah.

Mungkin tanpa kita sadari sebenaranya ada banyak lagi orang yang mirip dengan kak Nyoman Anjani atau juga malah mirip dengan kita sendiri dari yang agak mirip sampai yang mirip banget. Toh bukankah hanya Tuhan yang maha esa?

Ternyata Mending Ditilang Daripada Harus Bayar Uang Damai

Wah, ternyata pengurusan untuk STNK yang ditilang tidak seburuk apa yang saya bayangkan ya. Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Jumat, 25 Oktober 2013 saya bangun pagi lebih awal dari biasanya. Bukan karena dalam tidur mendapat wahyu dari Tuhan kemudian berubah seketika saat bangun, tapi karena pada hari itu tidak ada kuliah pukul 9 dan seorang teman bernama Dezky mengajak saya bermain futsal pagi sekali. Terpaksalah mata ini bangun lebih awal demi secercah cahaya kesehatan yang dikirim Tuhan bersama sebungkus olahraga bernama futsal.

Seusai futsal, terjadi obrolan anak jantan yang sedikit jantan menjelang pulang. Waktu ngobrol obrolan jantan itu pun terpaksa harus berhenti mengingat waktu sudah menunjukan akan masuk waktu shalat Jumat. Saya dan Dezky bergegas pulang, kebetulan kami satu tempat kosan sehingga pergi dan pulang Dezky bareng (nebeng -red). Entah karena apa atau apa waktu itu saya buru-buru sekali sampai-sampai harus melanggar rambu-rambu lalu lintas di simpang Dago. Saya yang bergerak dari arah utara langsung berputar pada larangan berbalik arah tepat di depan McD Dago menuju ke utara agar dapat segera langsung tiba di kostan saya, Jalan Cisitu Lama.

Dan kemudian, bingo! Seorang polisi berompi hijau yang khas lengkap dengan kaca mata hitam terpasang di atas tulang hidungnya langsung memberhentikan kami tepat beberapa saat setelah kami memutar. Saat itu saya tidak tau harus melakukan apa, apakah harus kabur dan tancap gas di keramaian jalan Dago yang dipenuhi sesaknya kendaraan atau menyerah dan berhenti dan mengaku salah. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti walau sebelumnya Dezky sempat berteriak di belakang saya untuk memerintahkan kabur.

 

damai-itu-20000Saya langsung dikenai pasal berlapis. Saya melakukan beberapa kesalahan sekaligus; melanggar rambu-rambu lalu lintas, menerobos lampu merah, dan tidak memakai helm (kebetulan Dezky saat itu tidak memakai helm). Bahkan yang lebih parahnya lagi, ternyata SIM C saya saat itu sudah habis masa berlakunya sejak agustus lalu. Saya sama sekali tidak menyadari hal itu. Sempat kepikiran oleh saya untuk membayar “uang damai” dengan polisi yang sedang lapar ini tapi saya enggan melakukan itu. Rasa penasaran dengan proses hukum yang saya jalani pun menjadi motivasi saya untuk tidak damai dengan polisi seperti kebanyakan orang lakukan. Ya setidaknya saya bisa sedikit bangga punya integritas dan membuat polisinya kesal karena tidak mendapatkan barang buruannya dari saya.

Dengan pasal berlapis, saya dijadwalkan untuk mengikuti proses persidangan pada hari Jumat, 1 November 2013. Beberapa hari sebelum proses persidangan saya sempat mencari tahu informasi mengenai proses hukum yang akan saya jalani nantinya di Internet. Begitu membaca undang-undangnya dan melihat hukumannya saya pun menjadi was-was karena di salah satu pasal tertulis hukuman yang diterima adalah maksimal kurungan penjara beberapa bulan atau subsider denda maksimal 500 ribu. Saya merasa seperti seorang tersangka yang ada di TV-TV yang akan disidang menggunakan pakaian berwarna biru atau jingga bertuliskan tersangka di punggung. Oh, man!

Hingga 1 november pun tiba. Karena tulisan polisi di surat tilang yang saya terima beda-beda tipis dengan tulisan dokter dan jadwal kuliah saya juga padat pada hari itu saya baru bisa mengunjungi kantor polisi sore hari pukul 4. Begitu saya tiba di kantor polisi Bandung yang di jalan merdeka tepat di depan balai kota saya langsung  mencoba menghampiri beberapa polisi yang berjaga di pos keamanan dan bertanya apa yang harus saya lakukan untuk mengambil STNK saya yang ditilang. Sebelum saya bertanya saya juga sudah menyiapkan beberapa pernyataan counter apabila ada kata-kata polisi yang memancing saya untuk berdebat. Putra orangnya emang sok iye gitu sih. Dan apa yang saya dapatkan? Saya kira bapak-bapak polisi ini akan menjawab saya dengan ketus dan saya menjawab dengan beberapa pertanyaan yang mengritik. Tapi ternyata bapak-bapak polisinya menanggapi saya dengan sangat ramah sekali. Dengan logat sundanya, bapak-bapak disana mengatakan kalau saya seharusnya datang ke pengadilan negeri di jalan Riau dan sekarang sudah tutup. Saya disuruh kembali besok, jika lewak seminggu, maka kasus saya akan dilimpahkan ke kejaksaan. Kemudian saya memutuskan pulang dengan sedikit tenang. Ternyata masih ada polisi yang ramah ya.

Saya baru memenuhi panggilan pengadilan seminggu setelah perkara saya di sidangkan karena padatnya jadwal kuliah dan kesibukan saya yang lain. Saya datang ke pengadilan sekitar pukul 11 siang pada hari Senin, 11 November 2013. Ada yang aneh memang disini, begitu saya memarkinkan kendaraan saya di depan pengadilan negeri bandung yang terletak di jalan Riau 2 orang bapak-bapak langsung menghampiri saya menanyai apakah saya datang untuk memenuhi panggilan sidang. Mereka adalah calo yang biasa mengurusi orang yang tidak ingin repot-repot mengikuti persidangan dan saya lihat ada seorang polisi bersama mereka dan terlihat polisi itu membiarkan aksi mereka seolah sudah bekerjasama. Tapi saya sama sekali tidak menjawab pertanyaan kedua bapak tadi dan langsung masuk ke gedung pengadilan. Di bagian informasi saya dilayani dengan cara yang kurang ramah, jawaban yang seadanya, dan ketus. Mereka mengatakan kasus saya sudah dilimpahkan ke kejaksaan dan STNK saya dapat diambil di kejaksaan negeri bandung di jalan Jakarta.

gal64232644

Sesampainya di kejaksaan tinggi saya langsung ke bagian tilang. Disana sudah ada petugas yang melayani. Mereaka meminta surat tilang saya dan mempersilakan saya menunggu sejenak. Beberapa saat kemudian saya dipanggil dan disebutkan dikenai denda sebesar 75 ribu rupiah. Saya langsung membayarnya dan STNK saya sudah kembali ke tangan saya. Ternyata prosesnya tidak sesulit yang saya bayangkan. Kemudian saya kembali ke kampus dengan tenang karena harus mengikuti kuliah selanjutnya.

Di jalan saya berpikir untuk 4 pasal yang dikenakan pada saya, saya hanya cukup membayar 75 ribu. Bayangkan jika saya suatu waktu ditilang karena tidak pake helm kemudian saya membayar “uang damai” pada polisi sebesar 100 ribu. Mana yang untung? Saya pun yakin jika

sebenarnya kesalahan saya lebih sedikit dan saya mengikuti kasus persidangan saya hanya membayar beberapa saja. Bahkan saya sempat membaca beberapa tulisan di internet yang hanya dikenai denda sebesar 15 ribu. Lalu kenapa kita masih lebih banyak memilih membayar puluhan ribu pada polisi dibandingkan hanya membayar belasan ribu pada negara?

Tuntutan Upah Buruh Menyamai Gaji Minimal Freshgraduate ITB

Hari ini di mata kuliah Business Ethics and Law ada tugas membahas kasus bisnis yang tengah hangat belakangan ini. Saya mengangkat kasus tuntutan kenaikan upah UMR DKI Jakarta untuk dibahas. Apa itu UMR? UMR adalah upah minimum regional yang wajib dikeluarkan oleh perusahaan untuk membayar jasa seorang buruh memiliki masa kerja 0 hingga 12 bulan dan belum menikah dan tidak termasuk uang makan, transportasi, dan lembur. Sebelum kita membahas buruh dan tuntutannya lebih lanjut, mari kita definisikan dulu kata buruh yang dimaksud dan dibahas dalam artikel ini. Buruh yang di dalam bahasa inggris disebut labour, mendefinisikan bahwa semua tenaga kerja dalam sebuah perusahaan dapat dikategorikan buruh terkecuali pemegang modal termasuk didalamnya shareholder dan stackholder. Saya kemudian mempersempit menggunakan kata buruh sebagai kata penjelas khusus untuk seorang tenaga kerja terampil dan bukan termasuk didalamnya tenaga kerja terdidik.

Beberapa waktu yang lalu sekelompok buruh melakukan demonstrasi besar-besaran di di depan balai kota DKI Jakarta menuntut kenaikan upah minimum 2014 menjadi sebesar 3.7 Juta rupiah. Saat ini, berdasarkan peraturan pemerintah DKI Jakarta, UMR ditetapkan sebesar 2.2 Juta. Angka ini sebenarnya jika dibandingkan dengan daerah lain memang cukup besar. Kenaikan UMR DKI dalam 4 tahun terakhir adalah yang paling signifikan. Bagaimana tidak semakin banyak pendatang di DKI tiap tahunnya jika buruhnya ditawarkan upah yang menggiurkan.

Salah satu bentuk vandaliseme kaum buruh saat demonstrasi
Salah satu bentuk vandaliseme kaum buruh saat demonstrasi

UMR Beberapa Kota Besar di Indonesia dari tahun ke tahun

Screen Shot 2013-11-06 at 13.48.26Melalui tuntutannya, para buruh menganggap bahwa upah sebesar 2.2 juta adalah angka yang kecil  dan tidak cukup untuk dapat bertahan hidup di Jakarta. Permintaan ini pun menuai banyak tanggapan. Angka 3.7 juta yang menjadi tuntutan kaum buruh untuk seorang yang baru bekerja selama lebih kurang dari 12 bulan dan belum menikah dinilai tidak rasional. Pasalnya untuk hidup di DKI Jakarta pada tahun 2013 saja per bulannya sebenarnya mereka hanya butuh minimal uang lebih kurang 1.8 juta.

Dengan angka 1.8 juta saya mencoba membuat analiss kebutuhan hidup bulanan minimum buruh dengan nilai inflasi rata-rata dari tahun ke tahun di DKI Jakarta sebesar 7% maka didapatlah data sebagai berikut.

Perbandingan Upah dan Kebutuhan Hidup Layak Buruh

Screen Shot 2013-11-06 at 13.49.04

Yang terjadi apabila UMR tetap dinaikkan menjadi 3.7 juta

Grafik di atas sebenarnya menunjukkan bahwa besar UMR yang mereka terima sudah memenuhi kebutuhan buruh sejak tahun 2012. Apabila permohonan mereka atas kenaikan UMR DKI Jakarta pada tahun 2014 dikabulkan, maka kebijakan ini akan berimbas pada penurunan nilai dan minat investasi di DKI Jakarta. Hal ini menurut pandangan saya juga akan berimbas pada meningkatnya jumlah PHK dan meningkatnya jumlah pengangguran di Jakarta karena akan ada banyak perusahaan yang lebih akan memilih menggunakan mesin sebagai solusi yang lebih ekonomis dibandingkan menggunakan tenaga manusia akibat tingginya harga jasa buruh. Apalagi peningkatan UMR yang yang akan terjadi dinilai sangat besar yaitu sebesar 67% dari sebelumnya 2.2 juta menjadi 3.7 juta per bulan.

2.2 juta per bulan sudah sangat jauh dari kata layak

Lalu apakah yang terjadi apabila tuntutan buruh tidak dikabulkan? Saya yakin para buruh akan kembali melakukan ritual tahunannya yaitu minta tuntutan kenaikan upah dan melakukan aksi besar besaran di jalanan Jakarta. Akibatnya jalanan menjadi macet dan aktifitas ekonomi dan pemerintahan terhambat. Belum lagi kerugian yang dialami perusahaan akibat kekosongan aktifitas di pabrik karena buruh mereka mengikiuti demonstrasi dan melakukan aksi mogok kerja. Ditambah lagi kerugian akibat vandalisme yang dilakukan sekelompok buruh. Hal ini saya yakini dapat berefek juga pada penurunan minat investasi di Jakarta. Toh apabila UMR dinaikkan menjadi 3.7 juta pun saya yakin buruh akan tetap melakukan tuntutan kenaikan upah dengan dalil biaya hidup di Jakarta semakin lama semakin tinggi. Artinya, dinaikkan atau tidak, buruh pasti akan melakukan demonstrasi terkait tuntutan atas kenaikan upah minimum regional.

Alasan Buruh Tuntut Kenaikan UMP 2014: Kebutuhan Hidup Layak (KHL) Pekerja Lajang di DKI Jakarta

Berikut adalah kalkulasi kebutuhan buruh yang saya kutip dari situs http://nasionalis.me

  1. Perumahan Rp 1.250.000 dengan rincian: 
    • Sewa rumah (3 petak)/cicilan rumah tipe 36 Rp 750 ribu.
    • Perumahan 30 item (kasur, tempat tidur, sprei, meja, lemari, dispenser, mesin cuci, kipas angin, perlengkapan makan) Rp 300 ribu.
    • Listrik 900 watt Rp 100 ribu.
d. Air PAM Rp 100 ribu.
  2. Transportasi Rp 570 ribu dengan rincian:
    • 2x Naik angkot pulang pergi Rp 12 ribu dikali 30 hari= Rp 360 ribu
    • Bus Transjakarta Rp 7 ribu dikali 30 hari= Rp 210 ribu
  3. Makan dan minum Rp 1.060.000 dengan rincian: 
    • Makanan
    • Makan pagi (nasi uduk telor ) 5 ribux30= Rp 150 ribu
    • Makan siang (nasi soto) 9 ribux30= Rp 270 ribu
    • Makan malam (nasi goreng) 8 ribux30= Rp 240 ribu
    • Buah-buahan per bulan Rp 100 ribu
    • Minuman
    • Teh 2 ribux30= Rp 60 ribu
    • Kopi 2.500×30= Rp 75 ribu
    • Air mineral 3 ribux30= Rp 90 ribu
    • d. Susu 2.500×30= Rp 75 ribu
  4. Sandang (pakaian, celana, kaos, sepatu, dll) Rp 300 ribu
  5. Pendidikan (langganan koran) Rp 15 ribu
  6. Kesehatan (sabun, odol, bedak, dll) Rp 150 ribu
  7. Rekreasi dan tabungan (3 persen dari total) Rp 100 ribu

Total Rp3,445,000.00

 Audit Ulang Argumen Kalkulasi Alasan Buruh Tuntut Kenaikan UMP 2014

Kebutuhan yang buruh tuntut memang suatu angka yang bisa diperdebatkan. Di satu sisi angka tersebut kelihatan ideal untuk mencapai tangga kesejahteraan, di sisi yang lain angka-angka di atas terkesan “manja”. Poin-poin angka di atas cuma melihat apa yang buruh inginkan ideal dalam tiap poinnya, tapi tidak mengacuhkan konteks persaingan kerja dan bisnis yang ada sekarang.

Buruh sama sekali tidak paham atau tidak mau paham bahwa keterpenuhan seluruh kebutuhan hidup bukanlah tanggung jawab perusahaan. Itu adalah pilihan. Kalau memang merasa tidak terpenuhi, silakan pindah ke perusahaan lain, atau buka perusahaan sendiri.

Kalau mau rasional, hitung-hitungan buruh harus dipreteli. Mari simak hitungan alasan buruh tuntut kenaikan UMP 2014. Biar belajar supaya tidak egois dan bermental buruk.

  1. Perumahan Rp 1.250.000 Rp. 450.000 dengan rincian: 
    • Buruh muda dan lajang belum punya tanggungan, wajar untuk bertempat tinggal di kostan lebih dahulu. Para lulusan S1 bahkan S2 yang baru bekerja pun banyak yang masih kost. Rp 750 ribu Rp 300.000
    • Buruh muda langsung perlu mesin cuci? dispenser? Konyol. Kalaupun mau haruskah dipikirkan oleh perusahaan? Rp 300 ribu.
    • Listrik 900 watt Rp 100 ribu.
    • Air PAM Rp 100 ribu Rp 50 ribu.
  2. Transportasi Rp 338 ribu dengan rincian:
    • 2x Naik angkot pulang pergi Rp 12 ribu Rp 6000 dikali 30 26 hari= Rp 156 ribu
    • Bus Transjakarta Rp 7 ribu dikali 30 26 hari= Rp 210 ribu Rp 182 ribu
  3. Tidak masuk akal buruh dapat 300 ribu untuk pakaian / sepatu sebulannya. Pekerja sektor lain pun tidak membeli sesering itu. Rp 300 ribu Rp 100.000
  4. Makan dan minum Rp 1.060.000 Rp 900.000 dengan rincian:
  • Makanan
  • Makan pagi (nasi uduk telor ) 5 ribux30= Rp 150 ribu
  • Makan siang (nasi soto) 9 ribux30= Rp 270 ribu
  • Makan malam (nasi goreng) 8 ribux30= Rp 240 ribu
  • Buah-buahan per bulan Rp 100 ribu Lebay
  • Minuman
  • Teh 2 ribux30= Rp 60 ribu
  • Kopi 2.500×30= Rp 75 ribu Pilih salah satu kopi atau teh
  • Air mineral 3 ribux30= Rp 90 ribu Belajar bawa sendiri
  • Susu 2.500×30= Rp 75 ribu Ini akan menjadi rokok
  • Pendidikan (langganan koran) Rp 15 ribu Tidak perlu.
  • Kesehatan (sabun, odol, bedak, dll) Rp 150 ribu Rp 30 ribu Jangan pakai merek L’oreal makanya. Pakai yang hemat saja.
  • Rekreasi dan tabungan (3 persen dari total) = Rp 55 ribu

Total untuk: Rp 1.872.540

Mental buruh buruk

Dalam kebanyakn tuntutan buruh saya menarik garis kesimpulan mereka menuntut kenaikan upah memanfaatkan belas kasihan atas tidak sanggupnya mereka bersaing dalam kehidupan. Dengan begini, saya berpandangan bahwa mental buruhlah sebenarnya yang menjadi masalah dalam setiap penaikan upah minimum. Mental miskin yang manja terus melatar belakangi mereka dalam meraih puncak tertinggi kebutuhannya berdasarkan piramida marslow. Dalam beberapa berita online ada yang memberitakan bahwa beberapa buruh ada yang melakukan aksi menggunakan motor mewah. Selanjutnya silakan kita pikirkan sendiri.

Motor mewah pada saat aksi demo buruhUMR hanyalah upah minimum untuk buruh yang memiliki masa kerja dari 0-12 bulan dan belum memiliki tanggungan. Ini yang menjadi masalah atas kesalahpahaman selama ini. Buruh yang ikut dalam demonstrasi menuntut kenaikan upah minimum regional beberapa waktu lalu beberapa ada yang memiliki jabatan sebagai manajer di sebuah perusahaan swasta. Menuntut kenaikan UMR menjadi 3.7 juta adalah tuntutan yang salah menurut saya sebenarnya. Yang mereka butuhkan sebenarnya adalah kenaikan gaji dan bukan UMR yang selayaknya dialamatkan ke perusahaan tempat mereka bekerja dan bukan ke pemerintah. Menyama-ratakan upah minimum untuk “freshgraduate”-nya buruh menjadi 3.7 juta adalah hal konyol. Bahkan untuk UMR 2.2 juta yang diberikan saat ini menurut saya masih merupakan keputusan yang salah dari peemerintah. Atau apakah tuntutan 3.7 juta untuk UMR dipicu oleh keinginan buruh untuk kredit mobil murah yang sedang digadang-gadangkan pemerintah?

Belum lagi masalah ketidak adilan yang muncul apabila UMR jadi dinaikkan. Apabila seorang tamat SMA atau SMK atau bahkan berlatar pendidikan lebih rendah mendaftar menjadi pekerja di sebuah perusahaan manufaktur yang notabene hanya mengandalkan keterampilan dan tenaga langsung mendapatkan upah di bulan pertamanya sebesar 3.7 juta, lalu apabedanya dengan seorang intelektual yang merupakan freshgraduate lulusan ITB yang bekerja dengan kemampuan yang tidak dimiliki oleh buruh kemudian bekerja pada sebuah perusahaan dan mendapatkan gaji 3.5 juta di bulan pertamanya? Sepertinya akan lebih sejahtera untuk tidak melaksanakan pendidikan tinggi.

Untuk para buruh diluar sana, saya hanya ingin menghimbau untuk sedikit membuka mata agar tidak egois dan tidak manja menghadapi kehidupan. Buang jauh-jauh mental miskin yang selalu berharap segala hal datang tanpa perjuangan. Jika seorang buruh disukai perusahaan maka perusahaan pasti akan membayar buruh tersebut dengan harga tinggi karena khawatir buruh tersebut pindah ke perusahaan lain yang menawarkan upah yang lebih tinggi. Solusi terbaik menurut saya sebenarnya adalah pemerintah menetapkan UMR dengan kenaikan upah berdasarkan nilai inflasi. Bahkan 2.2 juta sudah terlalu banyak.

Lalu ketika buruh hanya bisa mogok kerja layaknya anak kecil yang merengek saat tidak diberikan permen oleh ayahnya, apa bedanya buruh dengan anak kecil? Akhirnya pun muncul argumen, “pantas jadi buruh, kalau berpikir rasional saja belum bisa”.

 

Tulisan ini diambil dari berbagai macam sumber.
Bagi yang ingin membantu menyertakan sumber silakan.

Blackberry akan Dibeli Orang Indonesia?

UTS untuk mata kuliah Decision Making baru saja berakhir pada pukul 10.00. Peserta ujian seisi auditorium saat itu satu per satu mengumpulkan lembar jawabannya masing-masing. Saya keluar dari ruang ujian dengan wajah stress kemudian duduk di perpustakaan untuk menunggu ujian selanjutnya, Logic & Critical Thinking pada pukul 10.30. Sepanjang ujian berlangsung handphone saya berdering lebih banyak dari biasanya. Ahmad, adalah salah satu dari teman saya yang mengirim pesan agar saya meng-invite-nya ke kontak BBM saya melalui WhatsApp. Benar, Blackberry baru saja meluncurkan kembali BBM untuk platform iOS dan Android hari ini setelah sebulan yang lalu Blackberry menariknya dari Google Playstore dan Appstore akibat banyak beredarnya aplikasi BBM palsu dan ketidak-siapan sistem.

Saya sendiri termasuk salah satu yang beruntung telah menggunakan Blackberry Messenger di perangkat iOS saya sejak sebulan yang lalu. Pasalnya setelah saya mendownload BBM pada iPhone saya pada dini hari, paginya Blackberry menarik kembali aplikasinya dari Google Playstore dan Appstore. Walau telah ditarik, BBM yang sudah diunduh masih dapat digunakan di perangkat saya.

Hari ini pengguna BBM akan banyak diunduh oleh pengguna iOS dan Android. Terlihat dari laman AppStore bahwa Blackberry hingga saat ini menduduki peringkat teratasi sebagai top free application. Blackberry melalui media menyatakan diri bahwa mereka percaya bisa menghancurkan kekuatan WhatsApp di pasar pesan cepat dan membuat pengguna smartphone beralih menggunakan BBM sebagai aplikasi pesan cepat utama mereka. Namun apakah peralihan ini nantinya menjamin suksesnya BBM dan bahkan membuat Blackberry berjaya? Belum tentu.

Sejauh ini pengamatan saya saat menggunakan BBM di iPhone saya, saya menilai BBM tidak lebih baik dibandingkan WhatsApp. Kerap kali BBM memiliki masalah-masalah mendasar seperti pesan yang pending atau bahkan tidak dapat terkirim sama sekali. Sebulan yang lalu saya sempat merasakan euphoria bangga menggunakan BBM di ponsel saya namun euphoria ini mulai hilang setelah saya sadar BBM mulai “Bertingkah”. Pada awal saya mengunduh BBM di iPhone saya, saya sempat menghapus WhatsApp dengan harapan saya akan lebih mudah menghemat baterai dengan hanya menggunakan satu layanan pesan singkat saja. Ternyata ekspektasi saya terlalu besar pada BBM. Seminggu setelah saya menghapus Whatsapp saya mengunduhnya kembali.

BBM di perangkat saya
BBM di perangkat saya

Pengalaman saya yang sebelumnya terbiasa menggunakan WhatsApp membuat saya berpikir BBM masih tidak lebih baik dibandingkan WhatsApp. Pending disana-sini dan aplikasi yang sering sekali muncul bug membuat saya terpaksa memperkecil harapan saya pada BBM. Awalnya saya hanya berpikir mungkin ini terjadi hanya karena aplikasi ini belum siap dan berharap perbaikan terjadi pada update selanjutnya. Hari ini kemudian saya mengg-update BBM ke versi terbaru namun yang terjadi sama saja. Masih banyak pending dan bugs dimana-mana seperti biasa. Bedanya hanya tampilan BBM yang terbaru kali ini memiliki kompatibelitas dengan iOS 7, terlihat dari tampilan keyboardnya yang baru. Hal ini harusnya membuat Blackberry berpikir bahwa posisi mereka tidak aman sekarang.

Boleh saja saya skeptis terhadap performa BBM di iOS dan Android yang buruk dan beranggapan bahwa Blackberry sedang tidak aman. lalu jika BBM tidak akan terlalu baik bekerja di iOS dan Android, apakah BBM berjaya di kandangnya sendiri, Blackberry? Ternyata juga belum tentu. Saya juga melihat akhir-akhir ini beberapa dari teman saya yang menggunakan Blackberry lebih senang menggunakan WhatsApp dan Line untuk pesan cepat dibandingkan BBM. Selain karena pengguna Blackberry sudah berkurang dan kemudian lebih banyak yang beralih menggunakan iPhone atau Perangkat android untuk pilihan smartphone mereka, ternyata pengguna Blackberry sendiri juga merasakan hal yang sama. Mereka juga mengakui bahwa BBM sering bermasalah di Blackberry, berbeda jika mereka menggunakan WhatsApp atau Line. Mungkin hanya beberapa dari pengguna Blackberry yang menggunakan Line. Pasalnya Line kerap sekali dianggap “berat” untuk dijalankan di Blackberry. Pada akhirnya, tinggallah mereka yang hanya berlangganan paket “gaul” atau paket yang layanan internetnya tidak bisa dipakai untuk menggunakan WhatsApp, Line, atau semacamnya saja yang tetap loyal bersama BBM di Blackberry. Atau bahkan ada kemungkinan bahwa mereka juga nantinya akan berlaih? Siapa tahu.

Prediksi saya, jika BBM tetap tidak bisa memberikan layanan pesan cepat atau justru memberikan layanan pesan lambat pada penggunanya maka saya khawatir akan ada banyak pengguna BBM yang satu per satu setelah 1 atau 2 minggu menggunakan BBM di iOS atau Android mereka malah menghapus aplikasi ini dari perangkat mereka masing-masing. Hal ini bukan tidak mungkin, hal ini dikarenakan orang-orang tentu cenderung akan memilih layanan yang akan memberikan mereka kemudahan; bukan kesulitan.

Bagaimana nasib Blackberry kemudian? Jika ini terus berlanjut, maka Blackberry tentunya harus sudah siap memasuki persaingan terbuka dengan kompetitornya, Apple dan Android. Jika dulunya Blackberry masih dengan santai bisa membangga-banggakan layanan pesan cepatnya sebagai nilai tambah perangkat mereka maka kini mereka harus sudah siap dengan perang inovasi atau jika tidak maka Blackberry akan bernasib sama dengan mantan raksasa ponsel asal Finlandia, Nokia. Pilihan akhirnya bisa jadi Blackberry bangkrut atau dibeli oleh perusahaan lain akibat Blunder BBM sakit yang ditawarkannya. Atau juga bisa jadi Blackberry akan dibeli oleh orang Indonesia. Bisa jadi. Siapa yang tahu? hahaha

Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu sederhana. Kalimat itu muncul di benak saya pertama kali saat mengakhiri liburan 3 hari 2 malam saya ke Depok di akhir pekan. Ide liburan kali ini memang cukup ekstrem mengingat bahwa satu hari setelah liburan selesai, minggu UTS menunggu. Berangkat dari keinginan untuk memberikan Debby perjalanan Kereta Api pertamanya akhirnya liburan ini terealisasikan dengan pengalaman yang membahagiakan.

Tiket Kereta api
Tiket Kereta api

Berangkat pukul 4 sore menggunakan kereta api argo parahyangan saya dan Debby pun memulai perjalanan dari stasiun Bandung menuju stasiun Jatinegara dengan dihiasi lukisan-lukisan pemandangan yang bergerak-gerak di jendela gerbong. Inilah salah satu alasan saya senang sekali naik kereta api di Bandung. Sketsa-sketsa rapih tentang persawahan, perbukitan, dan kehidupan desa yang masih perawan menjadi teman perjalanan selepas melewati stasiun padalarang. Sekejap teringat adegan film Harry Potter ketika ia dan temannya sedang dalam adegan di kereta api.

Perjalanan berlangsung selama lebih kurang 3 jam. Kami sampai di sambut dengan udara kering dan panasnya ibukota. Kami turun di stasiun Jatinegara dan melanjutkan perjalanan ke stasiun UI menggunakan KRL commuter. Dan kebetulan sekali kami tiba sekitar pukul 7 malam dan itu artinya perjalanan kereta yang kami lakukan selanjutnya adalah perjalanan yang berbanding terbalik dengan perjalanan dari Bandung ke stasiun Jatinegara. Saat itu suasana sedang dalam waktu pulang jam kantor dan itu artinya satu gerbong bisa diisi oleh jutaan umat manusia pencari nafkah yang baru pulang dari kantornya mencari rupiah dengan bercucur keringat. Efeknya adalah cucuran keringat mereka mengering di pakaian yang mereka pakai di tubuh mereka yang berdiri di gerbong sambil tangan mereka bergantung di gantungan kereta. Paru-paru saya bisa saja mati jika saja saya melanjutkan perjalanan ke Bandung dengan kondisi seperti itu. Tapi ya beginilah transportasi umum ibukota yang tak jauh beda padatnya dengan jalanannya.

Tiba di stasiun UI, kami di jemput untuk dibawa oleh teman-teman kami di basecamp masing-masing. Debby dijemput oleh salah seorang teman SMAnya yang kini berkuliah di Sastra Korea UI. Debby mengenalkannya, namanya Haryn. Anaknya berjilbab dan keliatannya asik. Asik buat dibully juga sih. Doi juga penggemar gila-berat-banget Korea-korea gitu. Tergambar sih dari isi timeline twitternya yang hanya berisi huruf latin untuk tulisan “RT” dan username saja. Begitu impresi awal saya.

Yoki tiba untuk menjemput kira-kira 15 menit setelah Haryn muncul dari kegelapan malam (halah). Yoki adalah teman SMA saya. Anaknya freak, garing, dan kurus. Hobinya ngoding dan ngegaring. Beliau adalah mahasiswa tingkat 2 di Sistem Informasi UI. Dulu di SMA kami sempat, satu kelas selama 2 tahun dan sempat berada pada tim olimpiade matematika yang sama. Ya, setidaknya sebelum saya dikeluarkan dari tim olimpiade matematika itu karena sibuk main basket dan pindah ke tim sastra. Oh iya, selain ngegaring, beliau juga hobi ngingat mantan. Lalu apa yang terjadi setelah saya sampai di basecamp-nya si Yoki ini? Benar, tidur.

Hari Sabtu diawali dengan jalan-jalan ganteng keliling UI dengan Debby dan Haryn. Diawali dengan makan siang di salah satu restoran korea di yang berlokasi di sekitar perpus sembari menunggu Yoki yang sedang UTS katanya. Ini bukan pertama kali saya berkunjung ke kampus kuning ini. Beberapa bulan yang lalu saya juga pernah, namun ada yang berbeda dengan perjalanan kali ini. Saya ditemani oleh Debby. Iya, Debby itu pacar saya (hehehe malu waktu mau nulis ini).

Ada lagi yang berbeda dengan liburan kali ini. Perjalanan kami ke UI membawa misi suci untuk ngeceng-cengin Yoki dan Haryn. Misi pertama kami adalah double date. Sore itu langit depok sedang gelap akan turun hujan dan kami menggaul berjamaah ke Margo City. Kata Yoki, mall ini adalah mall tergaul di Depok. Berita ini membuat saya semacam akan tiba-tiba dikutuk gaul setelah masuk Margo. Maklum di Dumai cuma ada Ramayana yang nggak hang-out-able.

Putra dan Haryn
Putra dan Haryn
Tawa makan malam
Tawa spesial

Malam itu misi kami ternyata berjalan dengan sukses. Walaupun Haryn dan Yoki katanya sudah saling mengenal sejak lama ternyata mereka berdua masih canggung.  Kami patut berterima kasih pada saat itu kepada Margo city dan Cinema 21. Diawali dengan nonton berjamaah film Captain Philips yang sabi dan ditutup dengan makan malam garing di Lotteria ternyata mampu membuat Yoki dan Haryn cair. Sedikit jokes garing yang muncul saat kami makan pun cukup membantu membuat mereka berdua akhirnya mulai ngobrol.

Ternyata malam itu tidak berakhir sampai disitu. Hari itu, 19 Oktober, Haryn ternyata sedang merayakan ulang tahunnya yang entah ke berapa. Saya dan Yoki langsung ditugasi oleh Debby untuk mencari sedikit peralatan dan amunisi untuk ngerjain Haryn. Tugas itu pun terlaksana dengan baik sesuai teknis lapangan yang telah direncanakan. 4 buah telur ayam dan setengah kilogram tepung sukses bersarang di kepala Haryn yang dibalut kerudung  dan mencipta tawa bahagia diantara kami malam itu seolah membuat 4 orang ini lupa bahwa ada UTS menyambut mereka di hari Senin dan hari-hari setelahnya. Ada satu hal yang ternyata saya lupa di hari itu, 19 Oktober 2013. Hari ini tidak hanya menjadi hari bahagia bagi Haryn karena berulang tahun. Hari ini juga menjadi pelengkap kebersamaan kami setelah bersama selama 2 bulan. Padahal rasanya baru kemarin. Semoga saja sepuluh tahun atau 50 tahun lagi saya masih merasakan kalimat “baru kemarin” itu. Amin.

19 Oktobernya selesai. Hari ini 20 Oktober dan itu artinya pulang ke Bandung. Itu juga berarti kembali ke dunia nyata setelah 3 hari 2 malam lari dari kenyataan. Begitu pulalah yang dialami oleh Haryn. Pagi itu misi kami mendekatkan mereka sepertinya harus berakhir begitu saat kami meninggalkan Depok. Ya, setidaknya saya dan Debby telah berhasil memberikan teman baru pada teman kami masing. Saya dan Debby pulang dengan bus dan berangkat dari stasiun bus Depok pukul 4 sore.

Di Bus, saya dan Debby banyak mengobrol banyak tentang perjalanan 3 hari 2 malam ini. Semua mungkin sudah ada Yang merencanakan. Mungkin jika saja kami di Depok lebih lama atau lebih cepat kami tidak akan dapat pengalaman yang sama baiknya. Ada banyak kebahagian berceceran dan kemudian saya kumpulkan satu per satu dari sana. Mulai dari mengenali teman baru dan menjadikannya akrab dalam waktu singkat hingga hal-hal lain yang tidak cukup hanya diceritakan pada beberapa paragraf.

Bahagia itu ternyata sesederhana pikiran melupakan beban yang membuat saya tertekan. Melupakan tugas-tugas kuliah, organisasi, dan kepanitiaan. Melupakan ujian-ujian tengah semester. Melupakan masalah-masalah kecil hingga besar. Dan yang terpenting berada dekat dengan orang-orang yang dicintai. Mungkin ini sedikit terdengar melupakan tanggung jawab dan lari dari kenyataan yang sedang kusut. Tapi apakah berhenti sejenak kemudian membenahi pikiran adalah sebuah kesalahan? Ada hal yang harus dibayar memang. Bahagia itu sederhana memang. Sesederhana melihat orang yang dicintai naik kereta untuk pertama kali, berada dengan jutaan manusia dalam 1 gerbong, dan sesederhana melihat kebahagiaan orang lain.

Haryn dan Debby
Haryn dan Debby

Terima kasih untuk waktunya Yoki Ardzian Adlan, Haryn Scania, dan Debby Rahmalia.

Book: An Introduction to Critical Thinking and Creativity: Think More, Think Better

Image
Publication Date: April 19, 2011 | ISBN-10: 0470195096 | ISBN-13: 978-0470195093 | Edition: 1

Critical thinking skills are essential in virtually any field of study or practice where individuals need to communicate ideas, make decisions, and analyze and solve problems. An Introduction to Critical Thinking and Creativity: Think More, Think Better outlines the necessary tools for readers to become critical as well as creative thinkers. By gaining a practical and solid foundation in the basic principles that underlie critical thinking and creativity, readers will become equipped to think in a more systematic, logical, and imaginative manner.

Creativity is needed to generate new ideas to solve problems, and critical thinking evaluates and improves an idea. These concepts are uniquely introduced as a unified whole due to their dependence on each other. Each chapter introduces relevant theories in conjunction with real-life examples and findings from cognitive science and psychology to illustrate how the theories can be applied in numerous fields and careers. An emphasis on how theoretical principles of reasoning can be practical and useful in everyday life is featured, and special sections on presentation techniques, the analysis of meaning, decision-making, and reasoning about personal and moral values are also highlighted.

All chapters conclude with a set of exercises, and detailed solutions are provided at the end of the book. A companion website features online tutorials that further explore topics including meaning analysis, argument analysis, logic, statistics, and strategic thinking, along with additional exercises and multimedia resources for continued study.

An Introduction to Critical Thinking and Creativity is an excellent book for courses on critical thinking and logic at the undergraduate and graduate levels. The book also serves as a self-contained study guide for readers interested in the topics of critical thinking and creativity as a unified whole.

Download ebook here.

sumber: amazon.com