Semoga Kau Masih Lakukan Itu

Biar hujan yang mewakili peluh mataku malam ini

Peluh yang keluar akan kehabisan energiku dalam rindu

Mewakili keletihanku menunggu

Tanpamu, waktuku berjalan lembih lama

Jarak antara angka 7 dan 8 di jam dindingku terlihat jauh sekali

Seperti ada yang salah dengan mesin di dalamnya

Mungkin sedang ada yang menyekatnya

Biarlah hujan ini turun

Agar aku tak rasakan begitu banyak sunyi malam ini

Apa kau juga rasakan itu, sayang?

Semoga kau masih lakukan itu.

 

Karya: Zulwiyoza Putra

Advertisements

Puisi Dua Belas April

Belas
Aku tak pernah minta belas
Juga tak pernah dua
Merdu aku tanpa belas
Adu aku tanpa panas
Biar dua jadi belas
Jangan biar jadi panas
Biar dua jadi panas
Jangan biar jadi lepas
Aku tak pernah pelas
Juga tak pernah pedua
Dua
Belas
Berapapun nafas
Kapanpun batas
Dimanapun lekas
Bagaimanapun hempas
Akan tetap ada satu paras
Dalam laras, satu kamu satu lekas
Selamat dua belas

Karya: Zulwiyoza Putra

Fiksiwiyoza: Jangan Banyak Tanya, Kulum Saja Ceritaku

Suatu hari di siang nan buta, gue duduk di salah satu sisi dinding di Sekre UKMR ITB. Saat itu lagu-lagu Tulus sedang berputar di kepala gue melalui headset yang menempel di kedua telinga. Volumenya? Gue atur setinggi mungkin sehingga akan menyebabkan orang-orang di sekiat gue bisu dan terlihat berbicara tapi tidak mengeluarkan suara apapun. Gue berganti fokus, menatap layar dalam-dalam dengan penuh cinta dan tiba-tiba jari-jari gue bergerak dengan sendirinya dan jadilah satu paragraf random ini. Apa maksudnya? gue juga nggak tahu. Simak sajalah paragraf ini.

“Aku patung mereka patung. Wajahku dibasahi air mata yang ingin hapus air matamu tapi tak bias. Harusnya sisa masa ku buat indah tapi kita dalam biorama.¬†Biorama? Apakah itu biorama, ia adalah sebuah tempat dimana aku bias melihat kamu sebagai seseorang yang sangat dekat denganku, ia adalah tempat itu. Tempat aku bisa membayangkan indahnya srikandi abad 21 yang menemukan arjunanya dalam sejarah cinta buku teks siswa SMA. Bioramaku akan hadir bersama mencintai dan dicintai tanpa harapanmu dalam sewindumu. Aku bukanlah peralatan dalam kebergunaanku demi kebahagiaan manusia yang telah ditakdirkan orang. Aku telah menunggu dalam dan luar di depan pintu pagimu, siangmu, malammu. Sesaat pun aku melihat biru, aku yakin kau tak disana? Apa itu usaha? Pagi ini aku yakin aku cinta padamu dalam setiap persegi hitam sedikit lengkung di setiap sudutnya. Dalam bayangku aku kehilangan, Jika kini nyatanya kau memilih dia aku tak akan mau larut di dalam anganku tanpa kau kutuju. Pintu adalah celah tempat aku dan kau bermain dalam ketidak sadaran nestapa yang sirna. Aku mengalun dalam setiap balutan birunya langit indah. Tak akan ada lagi apapun yang akan aku harapkan semasa aku membayangkanmu dalam setiap alunan lagu yang diputar langsung dari ponselku. Aku adalah kamu, dulu sekali. Kita pernah ditemukan oleh Tuhan sebelum diluncurkan olehnya ke bumi. Mengapa kenyataan ada seribu? Seakan duniaku adalah pilihan yang tidak jelas hakikatnya. Satu dan dua tidak ada bedanya ia tetap berjalan bersam buku-buku pelajaran dan tetap hanya menjadi bilangan. Apa enaknya tenggalam dalam khayal? Kau katakan saja secepatnya nyatamu. Indah, biarkan saja. Lalu lantunan adzan kan menemani berkolaborasi dengan hentakan Hayley Williams dalam angan yag terkurung jeruji silet. Biarkan saja ia diam terpaku dengan dinding. Tak mampu bergerak dalam dentuman bass drum yang melangkah dengan bola-bola biru. Jika surga adalah kanan maka kirimu adalah putih keabuan yang berserakan dalam kecaian bebatuan dan rongsokan plastik. Anak bayi berlari dibawah teduhan awan yang tercipta karena penutupan cahaya surya oleh butiran air di atmosfer. Dan jika kau melihat mata yang coklat di di dalam album biru jangan lupa kau hapuskan dulu debunya. Ia adalah tempat penyimpanan dimana kenangan bisa menari dengan bahagia ataupun sedih. Jangan kau lupakan apapun yang kau ingat dalah seharimu. Biarkan aku mencari di balik dentuman-dentuman aneh dan gurih. Ia mengikuti irama agar menjadi racikan yang lezt, dalam bentuk panjang maupun pendek. Merah adalah Poco Wibowo yang tiba-tiba kulihat saat aku menulis apa yang aku rasakan tanpa aku tau arahnya. Biarkan saja jari tengah ku ada di atas A terus dan telunjukku ada di atas S. Sedangkan telunjuk yang satunya lagi bermain dan menyelonjorkan kaki diantara susunan huruf yang terkumpul dalam QWERTY. Ini bukan masalah alunan atau apapun, ini adalah tentang merah dan¬† biarkan dia memakai jasnya dengan indah agar mampu tampil dalam setiap kesempatan yang ia mau. Jangan batasi, karena limit adalah halanganmu mendapatkan entitas nilai, atau mungkin merusak indeks prestasimu. Lalu setelah kau bermain sangat jauh dengan acaknya sebuah perasaan dan pandangan akankah kau mengatakau apa tujumu? Kulum sajalah ceritaku.”

Aku yang Berusaha Hidup di Dalam Matiku

20121104-105952 PM.jpgDulu aku kuat berjalan di bebatuan
Tak ada yang mendengar kesusahan
Biar dalam gelap gulita pun aku kuatkan
Deklarasi kekuatan sempat terbuktikan dalam tindakan
Biar aku hancurkan sarang laba-laba itu
Agar dapat melawan arus sungai dalam mimpiku
Akulah ranting yang mengambang
Berjalan dan berharap sesuai inginku
Berenang dan menyelam melawan arusmu
Tapi aku lupakan keresesifanku
Dedaunan tak lagi dapat aku gunakan untuk membantu keapunganku
Alam tetaplah alam
Membiarkanku terselam dalam kelam
Membiarkanku terbenam dalam sekam
Melemparkanku ke haluan walau aku melawan
Akulah ranting yang dulu mengambang ke permukaan itu
Yang kini hanya mampu terlentang
Terlentang dalam bisu dan kepasifan
Akulah ranting yang dulu kuat itu
Yang kini hanya tinggal nama keburukan
Buruk dalam kesalah tafsiran
Akulah yang telah mati itu
Yang terus berusaha hidup di dalam matiku
Tapi aku tetaplah aku