Orang-orang Mirip Nyoman Anjani Dari Perempuan Sampai Laki-laki

Entah mirip atau tidak, lima orang dibawah ini katanya mirip dengan presiden kabinet mahasiswa ITB, Nyoman Anjani. Konon katanya, Kak Nyoman Anjani ini dinobatkan sebagai Presiden Mahasiswa tercantik se-Indonesia lho.

Dan kata beberapa orang dan kata saya juga sih lima orang di bawah ini mirip. Entah bagaimana pendapat anda? Siapa sajakah mereka? Yuk kita simak.

1. Raihannur Reztaputra (STEI 2013)

20131117-032535 PM.jpg
Foto di atas saya ambil di sekretariat UKMR ITB. Raihannur Reztaputra (STEI 2013) dianggap oleh orang se-sekre mirip dengan Nyoman Anjani. Hmmm…

2. Hayuningtias Rahmani Budiastuti (Mikrobiologi 2011)

20131117-032432 PM.jpg
Dan foto di atas adalah foto Nyoman Anjani dnegan mahasiswa bernama Hayuningtias Rahmani Budiastuti (Mikrobiologi 2011) saat sedang diadakannya kumpul salah satu kemenkoaan di bawah kabinet kak Nyoman di selasar CC Barat ITB. Bagaimana menurut anda? Mirip atau tidak?

3. Mirna Nurfutriani

564292_3524349985347_470808318_n
Nah, ini adalah foto Mirna Nurfutriani, anak ITB 2013 yang kata teman saya juga mirip sama Kak Nyoman Anjani. Nahlo!

4. Kelsi Sawitri (Fisika 2011)

999515_3263569604533_1507942431_n

Yang satu ini juga mirip, namanya Kak Kelsi Sawitri (Fisika 2011). Beliau waktu OSKM sempat jadi pendiklat saya juga sama Kak Udin. Hehehe

5. Aghnia Whibby (Electrical Power Engineering 2012)

1069329_10200454322820761_1281311521_n

Nah, yang ini namanya Aghnia Whibby (Electrical Power Engineering 2012). Nggak kenal sih, Tapi memang mirip.

20131117-033508 PM.jpg
Ini hanya foto saya, kak Nyoman, dan Debby. Tidak ada miripnya dengan Kak Nyoman sih, tapi ada yang bilang bahwa orang yang di sebalah kanan dan sebelah kiri itu katanya mirip. Ah entahlah.

Mungkin tanpa kita sadari sebenaranya ada banyak lagi orang yang mirip dengan kak Nyoman Anjani atau juga malah mirip dengan kita sendiri dari yang agak mirip sampai yang mirip banget. Toh bukankah hanya Tuhan yang maha esa?

Advertisements

Relativitas Perasaan, Waktu, Perpisahan, dan Segalanya

Seperti biasa, selalu saja ada hujan di setiap hari kesedihan kita teman. Tuhan memang menyampaikan perasaan kita semua hari ini seharian melalui alam.
Aku yakin sebenarnya ini bukan sebuah kesedihan, setiap orang mengartikan hari ini dengan definisi masing-masing. Biarpun ada yang menghiasi hati dengan sedih, tapi the show must go on, Kawan.
Dalam tangisanku sepanjang hari aku bahkan merasa belum puas, Teman. sekalipun mataku tak mampu lagi mengeluarkan air mata, tapi hati yang melakukannya. Ketidakpuasanku berada pada fikiranku yang dulu berfikir bahwa tiga tahun adalah masa yang lama. Tapi apa? Argumenku salah! Mungkin sebaiknya sebelum berfikir seperti itu aku belajar banyak dulu kepada Einstein tentang apa arti sebuah relativitas waktu. Ini semua terasa tak sampai tiga hari.
Tadi, Dina bilang kepadaku “Acara perpisahan hanyalah formalitas, tak ada dari kita yang benar-benar berpisah.” Kalimat itu menjadi bayang-bayangku di dalam perjalanan ke Padang kala aku duduk di belakang supir mobil ini dan berdiam. Sejuta pertanyaan pun hanya aku simpan.
Lantas sekarang apa yang harus kita lakukan ditengah kehilangan “semu” yang terus mengekori bayangan dari belakang ketika kau berjalan ke arah matahari terbit?
Analogiku begini, kronologi waktu dipisah oleh titik tengah yang kita sebut dengan masa kini. Jika bergerak kita kekiri dari masa kini kita akan menemui garis waktu masa lalu yang terdiri dari titik-titik kenangan. Jika sebaliknya, saat kita bergerak ke kanan ada garis masa depan yang terdiri dari titik-titik impian. Kinilah saatnya kita menggeser titik acuan ke kanan agar impian dapat dijadikan masa kini ketika nanti kau mewujudkannya. Dan kemudian bersiaplah untuk melihat semua titik-titik impian sepenjang garis bilangan yang panjangnya tak terhingga itu satu persatu berubah menjadi kenyataan indah yang akhirnya membuatmu bangga untuk dikenang.
Analogi yang rumit memang, tapi serumit itulah perasaanku sekarang untuk tidak menemui kalian bersama seragam putih abu-abu kebanggaan.
Lihatlah jalan ke depan, itu bukan lagi Gapura masuk kelurahan Purnama ataupun gerbang sekolahan.
Berdiri di depanmu gapura lorong waktu yang akan membawamu ke masa depanmu.
It’s not the end. It’s just the beginning!