Orang-orang Mirip Nyoman Anjani Dari Perempuan Sampai Laki-laki

Entah mirip atau tidak, lima orang dibawah ini katanya mirip dengan presiden kabinet mahasiswa ITB, Nyoman Anjani. Konon katanya, Kak Nyoman Anjani ini dinobatkan sebagai Presiden Mahasiswa tercantik se-Indonesia lho.

Dan kata beberapa orang dan kata saya juga sih lima orang di bawah ini mirip. Entah bagaimana pendapat anda? Siapa sajakah mereka? Yuk kita simak.

1. Raihannur Reztaputra (STEI 2013)

20131117-032535 PM.jpg
Foto di atas saya ambil di sekretariat UKMR ITB. Raihannur Reztaputra (STEI 2013) dianggap oleh orang se-sekre mirip dengan Nyoman Anjani. Hmmm…

2. Hayuningtias Rahmani Budiastuti (Mikrobiologi 2011)

20131117-032432 PM.jpg
Dan foto di atas adalah foto Nyoman Anjani dnegan mahasiswa bernama Hayuningtias Rahmani Budiastuti (Mikrobiologi 2011) saat sedang diadakannya kumpul salah satu kemenkoaan di bawah kabinet kak Nyoman di selasar CC Barat ITB. Bagaimana menurut anda? Mirip atau tidak?

3. Mirna Nurfutriani

564292_3524349985347_470808318_n
Nah, ini adalah foto Mirna Nurfutriani, anak ITB 2013 yang kata teman saya juga mirip sama Kak Nyoman Anjani. Nahlo!

4. Kelsi Sawitri (Fisika 2011)

999515_3263569604533_1507942431_n

Yang satu ini juga mirip, namanya Kak Kelsi Sawitri (Fisika 2011). Beliau waktu OSKM sempat jadi pendiklat saya juga sama Kak Udin. Hehehe

5. Aghnia Whibby (Electrical Power Engineering 2012)

1069329_10200454322820761_1281311521_n

Nah, yang ini namanya Aghnia Whibby (Electrical Power Engineering 2012). Nggak kenal sih, Tapi memang mirip.

20131117-033508 PM.jpg
Ini hanya foto saya, kak Nyoman, dan Debby. Tidak ada miripnya dengan Kak Nyoman sih, tapi ada yang bilang bahwa orang yang di sebalah kanan dan sebelah kiri itu katanya mirip. Ah entahlah.

Mungkin tanpa kita sadari sebenaranya ada banyak lagi orang yang mirip dengan kak Nyoman Anjani atau juga malah mirip dengan kita sendiri dari yang agak mirip sampai yang mirip banget. Toh bukankah hanya Tuhan yang maha esa?

Advertisements

Ternyata Mending Ditilang Daripada Harus Bayar Uang Damai

Wah, ternyata pengurusan untuk STNK yang ditilang tidak seburuk apa yang saya bayangkan ya. Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Jumat, 25 Oktober 2013 saya bangun pagi lebih awal dari biasanya. Bukan karena dalam tidur mendapat wahyu dari Tuhan kemudian berubah seketika saat bangun, tapi karena pada hari itu tidak ada kuliah pukul 9 dan seorang teman bernama Dezky mengajak saya bermain futsal pagi sekali. Terpaksalah mata ini bangun lebih awal demi secercah cahaya kesehatan yang dikirim Tuhan bersama sebungkus olahraga bernama futsal.

Seusai futsal, terjadi obrolan anak jantan yang sedikit jantan menjelang pulang. Waktu ngobrol obrolan jantan itu pun terpaksa harus berhenti mengingat waktu sudah menunjukan akan masuk waktu shalat Jumat. Saya dan Dezky bergegas pulang, kebetulan kami satu tempat kosan sehingga pergi dan pulang Dezky bareng (nebeng -red). Entah karena apa atau apa waktu itu saya buru-buru sekali sampai-sampai harus melanggar rambu-rambu lalu lintas di simpang Dago. Saya yang bergerak dari arah utara langsung berputar pada larangan berbalik arah tepat di depan McD Dago menuju ke utara agar dapat segera langsung tiba di kostan saya, Jalan Cisitu Lama.

Dan kemudian, bingo! Seorang polisi berompi hijau yang khas lengkap dengan kaca mata hitam terpasang di atas tulang hidungnya langsung memberhentikan kami tepat beberapa saat setelah kami memutar. Saat itu saya tidak tau harus melakukan apa, apakah harus kabur dan tancap gas di keramaian jalan Dago yang dipenuhi sesaknya kendaraan atau menyerah dan berhenti dan mengaku salah. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti walau sebelumnya Dezky sempat berteriak di belakang saya untuk memerintahkan kabur.

 

damai-itu-20000Saya langsung dikenai pasal berlapis. Saya melakukan beberapa kesalahan sekaligus; melanggar rambu-rambu lalu lintas, menerobos lampu merah, dan tidak memakai helm (kebetulan Dezky saat itu tidak memakai helm). Bahkan yang lebih parahnya lagi, ternyata SIM C saya saat itu sudah habis masa berlakunya sejak agustus lalu. Saya sama sekali tidak menyadari hal itu. Sempat kepikiran oleh saya untuk membayar “uang damai” dengan polisi yang sedang lapar ini tapi saya enggan melakukan itu. Rasa penasaran dengan proses hukum yang saya jalani pun menjadi motivasi saya untuk tidak damai dengan polisi seperti kebanyakan orang lakukan. Ya setidaknya saya bisa sedikit bangga punya integritas dan membuat polisinya kesal karena tidak mendapatkan barang buruannya dari saya.

Dengan pasal berlapis, saya dijadwalkan untuk mengikuti proses persidangan pada hari Jumat, 1 November 2013. Beberapa hari sebelum proses persidangan saya sempat mencari tahu informasi mengenai proses hukum yang akan saya jalani nantinya di Internet. Begitu membaca undang-undangnya dan melihat hukumannya saya pun menjadi was-was karena di salah satu pasal tertulis hukuman yang diterima adalah maksimal kurungan penjara beberapa bulan atau subsider denda maksimal 500 ribu. Saya merasa seperti seorang tersangka yang ada di TV-TV yang akan disidang menggunakan pakaian berwarna biru atau jingga bertuliskan tersangka di punggung. Oh, man!

Hingga 1 november pun tiba. Karena tulisan polisi di surat tilang yang saya terima beda-beda tipis dengan tulisan dokter dan jadwal kuliah saya juga padat pada hari itu saya baru bisa mengunjungi kantor polisi sore hari pukul 4. Begitu saya tiba di kantor polisi Bandung yang di jalan merdeka tepat di depan balai kota saya langsung  mencoba menghampiri beberapa polisi yang berjaga di pos keamanan dan bertanya apa yang harus saya lakukan untuk mengambil STNK saya yang ditilang. Sebelum saya bertanya saya juga sudah menyiapkan beberapa pernyataan counter apabila ada kata-kata polisi yang memancing saya untuk berdebat. Putra orangnya emang sok iye gitu sih. Dan apa yang saya dapatkan? Saya kira bapak-bapak polisi ini akan menjawab saya dengan ketus dan saya menjawab dengan beberapa pertanyaan yang mengritik. Tapi ternyata bapak-bapak polisinya menanggapi saya dengan sangat ramah sekali. Dengan logat sundanya, bapak-bapak disana mengatakan kalau saya seharusnya datang ke pengadilan negeri di jalan Riau dan sekarang sudah tutup. Saya disuruh kembali besok, jika lewak seminggu, maka kasus saya akan dilimpahkan ke kejaksaan. Kemudian saya memutuskan pulang dengan sedikit tenang. Ternyata masih ada polisi yang ramah ya.

Saya baru memenuhi panggilan pengadilan seminggu setelah perkara saya di sidangkan karena padatnya jadwal kuliah dan kesibukan saya yang lain. Saya datang ke pengadilan sekitar pukul 11 siang pada hari Senin, 11 November 2013. Ada yang aneh memang disini, begitu saya memarkinkan kendaraan saya di depan pengadilan negeri bandung yang terletak di jalan Riau 2 orang bapak-bapak langsung menghampiri saya menanyai apakah saya datang untuk memenuhi panggilan sidang. Mereka adalah calo yang biasa mengurusi orang yang tidak ingin repot-repot mengikuti persidangan dan saya lihat ada seorang polisi bersama mereka dan terlihat polisi itu membiarkan aksi mereka seolah sudah bekerjasama. Tapi saya sama sekali tidak menjawab pertanyaan kedua bapak tadi dan langsung masuk ke gedung pengadilan. Di bagian informasi saya dilayani dengan cara yang kurang ramah, jawaban yang seadanya, dan ketus. Mereka mengatakan kasus saya sudah dilimpahkan ke kejaksaan dan STNK saya dapat diambil di kejaksaan negeri bandung di jalan Jakarta.

gal64232644

Sesampainya di kejaksaan tinggi saya langsung ke bagian tilang. Disana sudah ada petugas yang melayani. Mereaka meminta surat tilang saya dan mempersilakan saya menunggu sejenak. Beberapa saat kemudian saya dipanggil dan disebutkan dikenai denda sebesar 75 ribu rupiah. Saya langsung membayarnya dan STNK saya sudah kembali ke tangan saya. Ternyata prosesnya tidak sesulit yang saya bayangkan. Kemudian saya kembali ke kampus dengan tenang karena harus mengikuti kuliah selanjutnya.

Di jalan saya berpikir untuk 4 pasal yang dikenakan pada saya, saya hanya cukup membayar 75 ribu. Bayangkan jika saya suatu waktu ditilang karena tidak pake helm kemudian saya membayar “uang damai” pada polisi sebesar 100 ribu. Mana yang untung? Saya pun yakin jika

sebenarnya kesalahan saya lebih sedikit dan saya mengikuti kasus persidangan saya hanya membayar beberapa saja. Bahkan saya sempat membaca beberapa tulisan di internet yang hanya dikenai denda sebesar 15 ribu. Lalu kenapa kita masih lebih banyak memilih membayar puluhan ribu pada polisi dibandingkan hanya membayar belasan ribu pada negara?

Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu sederhana. Kalimat itu muncul di benak saya pertama kali saat mengakhiri liburan 3 hari 2 malam saya ke Depok di akhir pekan. Ide liburan kali ini memang cukup ekstrem mengingat bahwa satu hari setelah liburan selesai, minggu UTS menunggu. Berangkat dari keinginan untuk memberikan Debby perjalanan Kereta Api pertamanya akhirnya liburan ini terealisasikan dengan pengalaman yang membahagiakan.

Tiket Kereta api
Tiket Kereta api

Berangkat pukul 4 sore menggunakan kereta api argo parahyangan saya dan Debby pun memulai perjalanan dari stasiun Bandung menuju stasiun Jatinegara dengan dihiasi lukisan-lukisan pemandangan yang bergerak-gerak di jendela gerbong. Inilah salah satu alasan saya senang sekali naik kereta api di Bandung. Sketsa-sketsa rapih tentang persawahan, perbukitan, dan kehidupan desa yang masih perawan menjadi teman perjalanan selepas melewati stasiun padalarang. Sekejap teringat adegan film Harry Potter ketika ia dan temannya sedang dalam adegan di kereta api.

Perjalanan berlangsung selama lebih kurang 3 jam. Kami sampai di sambut dengan udara kering dan panasnya ibukota. Kami turun di stasiun Jatinegara dan melanjutkan perjalanan ke stasiun UI menggunakan KRL commuter. Dan kebetulan sekali kami tiba sekitar pukul 7 malam dan itu artinya perjalanan kereta yang kami lakukan selanjutnya adalah perjalanan yang berbanding terbalik dengan perjalanan dari Bandung ke stasiun Jatinegara. Saat itu suasana sedang dalam waktu pulang jam kantor dan itu artinya satu gerbong bisa diisi oleh jutaan umat manusia pencari nafkah yang baru pulang dari kantornya mencari rupiah dengan bercucur keringat. Efeknya adalah cucuran keringat mereka mengering di pakaian yang mereka pakai di tubuh mereka yang berdiri di gerbong sambil tangan mereka bergantung di gantungan kereta. Paru-paru saya bisa saja mati jika saja saya melanjutkan perjalanan ke Bandung dengan kondisi seperti itu. Tapi ya beginilah transportasi umum ibukota yang tak jauh beda padatnya dengan jalanannya.

Tiba di stasiun UI, kami di jemput untuk dibawa oleh teman-teman kami di basecamp masing-masing. Debby dijemput oleh salah seorang teman SMAnya yang kini berkuliah di Sastra Korea UI. Debby mengenalkannya, namanya Haryn. Anaknya berjilbab dan keliatannya asik. Asik buat dibully juga sih. Doi juga penggemar gila-berat-banget Korea-korea gitu. Tergambar sih dari isi timeline twitternya yang hanya berisi huruf latin untuk tulisan “RT” dan username saja. Begitu impresi awal saya.

Yoki tiba untuk menjemput kira-kira 15 menit setelah Haryn muncul dari kegelapan malam (halah). Yoki adalah teman SMA saya. Anaknya freak, garing, dan kurus. Hobinya ngoding dan ngegaring. Beliau adalah mahasiswa tingkat 2 di Sistem Informasi UI. Dulu di SMA kami sempat, satu kelas selama 2 tahun dan sempat berada pada tim olimpiade matematika yang sama. Ya, setidaknya sebelum saya dikeluarkan dari tim olimpiade matematika itu karena sibuk main basket dan pindah ke tim sastra. Oh iya, selain ngegaring, beliau juga hobi ngingat mantan. Lalu apa yang terjadi setelah saya sampai di basecamp-nya si Yoki ini? Benar, tidur.

Hari Sabtu diawali dengan jalan-jalan ganteng keliling UI dengan Debby dan Haryn. Diawali dengan makan siang di salah satu restoran korea di yang berlokasi di sekitar perpus sembari menunggu Yoki yang sedang UTS katanya. Ini bukan pertama kali saya berkunjung ke kampus kuning ini. Beberapa bulan yang lalu saya juga pernah, namun ada yang berbeda dengan perjalanan kali ini. Saya ditemani oleh Debby. Iya, Debby itu pacar saya (hehehe malu waktu mau nulis ini).

Ada lagi yang berbeda dengan liburan kali ini. Perjalanan kami ke UI membawa misi suci untuk ngeceng-cengin Yoki dan Haryn. Misi pertama kami adalah double date. Sore itu langit depok sedang gelap akan turun hujan dan kami menggaul berjamaah ke Margo City. Kata Yoki, mall ini adalah mall tergaul di Depok. Berita ini membuat saya semacam akan tiba-tiba dikutuk gaul setelah masuk Margo. Maklum di Dumai cuma ada Ramayana yang nggak hang-out-able.

Putra dan Haryn
Putra dan Haryn
Tawa makan malam
Tawa spesial

Malam itu misi kami ternyata berjalan dengan sukses. Walaupun Haryn dan Yoki katanya sudah saling mengenal sejak lama ternyata mereka berdua masih canggung.  Kami patut berterima kasih pada saat itu kepada Margo city dan Cinema 21. Diawali dengan nonton berjamaah film Captain Philips yang sabi dan ditutup dengan makan malam garing di Lotteria ternyata mampu membuat Yoki dan Haryn cair. Sedikit jokes garing yang muncul saat kami makan pun cukup membantu membuat mereka berdua akhirnya mulai ngobrol.

Ternyata malam itu tidak berakhir sampai disitu. Hari itu, 19 Oktober, Haryn ternyata sedang merayakan ulang tahunnya yang entah ke berapa. Saya dan Yoki langsung ditugasi oleh Debby untuk mencari sedikit peralatan dan amunisi untuk ngerjain Haryn. Tugas itu pun terlaksana dengan baik sesuai teknis lapangan yang telah direncanakan. 4 buah telur ayam dan setengah kilogram tepung sukses bersarang di kepala Haryn yang dibalut kerudung  dan mencipta tawa bahagia diantara kami malam itu seolah membuat 4 orang ini lupa bahwa ada UTS menyambut mereka di hari Senin dan hari-hari setelahnya. Ada satu hal yang ternyata saya lupa di hari itu, 19 Oktober 2013. Hari ini tidak hanya menjadi hari bahagia bagi Haryn karena berulang tahun. Hari ini juga menjadi pelengkap kebersamaan kami setelah bersama selama 2 bulan. Padahal rasanya baru kemarin. Semoga saja sepuluh tahun atau 50 tahun lagi saya masih merasakan kalimat “baru kemarin” itu. Amin.

19 Oktobernya selesai. Hari ini 20 Oktober dan itu artinya pulang ke Bandung. Itu juga berarti kembali ke dunia nyata setelah 3 hari 2 malam lari dari kenyataan. Begitu pulalah yang dialami oleh Haryn. Pagi itu misi kami mendekatkan mereka sepertinya harus berakhir begitu saat kami meninggalkan Depok. Ya, setidaknya saya dan Debby telah berhasil memberikan teman baru pada teman kami masing. Saya dan Debby pulang dengan bus dan berangkat dari stasiun bus Depok pukul 4 sore.

Di Bus, saya dan Debby banyak mengobrol banyak tentang perjalanan 3 hari 2 malam ini. Semua mungkin sudah ada Yang merencanakan. Mungkin jika saja kami di Depok lebih lama atau lebih cepat kami tidak akan dapat pengalaman yang sama baiknya. Ada banyak kebahagian berceceran dan kemudian saya kumpulkan satu per satu dari sana. Mulai dari mengenali teman baru dan menjadikannya akrab dalam waktu singkat hingga hal-hal lain yang tidak cukup hanya diceritakan pada beberapa paragraf.

Bahagia itu ternyata sesederhana pikiran melupakan beban yang membuat saya tertekan. Melupakan tugas-tugas kuliah, organisasi, dan kepanitiaan. Melupakan ujian-ujian tengah semester. Melupakan masalah-masalah kecil hingga besar. Dan yang terpenting berada dekat dengan orang-orang yang dicintai. Mungkin ini sedikit terdengar melupakan tanggung jawab dan lari dari kenyataan yang sedang kusut. Tapi apakah berhenti sejenak kemudian membenahi pikiran adalah sebuah kesalahan? Ada hal yang harus dibayar memang. Bahagia itu sederhana memang. Sesederhana melihat orang yang dicintai naik kereta untuk pertama kali, berada dengan jutaan manusia dalam 1 gerbong, dan sesederhana melihat kebahagiaan orang lain.

Haryn dan Debby
Haryn dan Debby

Terima kasih untuk waktunya Yoki Ardzian Adlan, Haryn Scania, dan Debby Rahmalia.

Kisah Keluarga Caplok Kelompok 20

Akhirnya gue mulai juga menulis kalimat pertama ini. Setelah banyak mantan kalimat pertama yang gue tulis kemudian gue hapus lalu gue tulis lagi setelah itu gue hapus dan begitu seterusnya sampe akhirnya menjadi seperti sekarang. Ya ibaratnya kalo kalimat pertama ini layaknya seorang cewe, mantan gue udah banyaklah. Oh iya, sebelumnya kenalin, nama gue Zulwiyoza Putra dan gue anaknya pemalu. Ngomong-ngomong nama, penciptaan nama gue itu ada sejarahnya lho. Bung Karno kan juga pernah berkata, “bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah melupakan sejarah bangsanya.” Nah, jadi nama gue terdiri dari Zulwiyoza dan Putra. Zulwiyoza itu akar katanya adalah Zul, Wi, dan Yoza. Ini nggak ada hubungannya dengan konspirasi wahyudi kok, sumpah. Yoza berasal dari potongan nama bokap gue, Mayoza. Wi adalah penggalan dari nama nyokap gue, Meina Swita. Dan Zul diambil dari Nuzul Quran karena gue waktu itu lahir tepat 17 Ramadhan. Jadi sebenarnya gue berulang tahun versi kalender hijriah hari ini. Ucapin selamat dong.

Sebenarnya lu bisa aja skip langusng paragraf 1 ke paragraf ini karena paragraf sebelumnya menurut gue nggak penting. Alkisah, hiduplah suatu keluarga yang damai, sehat sentosa, dan sejahtera di sebuah negeri. Keluarga itu kini terdiri dari seorang ayah, 2 anak perempuan, dan 1 anak laki-laki yang pemalu. 1 anak laki-laki yang pemalu itu ngomong-ngomong adalah gue. Kami memang tidak memiliki Ibu lagi, karena ibu kami meninggalkan kami pergi ke Jordania untuk menjadi TKW selama 7 kali puasa dan 7 kali lebaran. Ibu kami menurut berita yang kami dapat diperkosa oleh majikannya dan jasadnya tidak dapat dipulangkan ke Indonesia. Karena keterbatasan biaya juga, akhirnya Jasad ibu kami hanya bisa sampai Lebanon dan ibu kami dikebumikan di sana. Tinggalah kami dengan seorang ayah bernama Irham. Irham bagi gue adalah sosok ayah yang sangat tangguh, ramah, dan rajin menabung. Ayah gue, Irham, bukanlah orang yang pemalu seperti gue anaknya. Konon kata tetangga yang sempat ngedonor air susunya ke gue waktu kecil, Ibu gue juga bukan sesorang yang pemalu. Sampai suatu saat gue sempat memutuskan untuk berniat melompat dari atas gedung PAU gara-gara gue merasa seperti anak yang tertukar. Jadi, gue berfikir kalau gue bukan lahir dari keluarga seperti ini, gue pasti lahir dari orang kaya yang punya rumah besar dan selalu ngeributin masalah warisan dari orang yang lupa ingatan kayak di sinetron-sinetron. Tapi akhirnya gue mengurungkan niat itu, karena pemandangan dari atas lantai PAU juga indah dan gue pikir gue belum pernah makan di kantin barak seumur hidup yang katanya banyak anak arsi yang cuakepz-cuakepz. Jadi, mungkin besok-besok aja.

Kakak gue, Ivy dan Pricillia adalah kakak yang baik hati dan rajin menabung. Ivy orangnya pemalu sama kayak gue, walaupun gue lebih pemalu sih. Sedangkan Pricillia adalah orang yang cinta damai kayak Slank. Gue curiga Kakak gue yang satu ini adalah salah seorang ormas separatis yang menamai diri Slankers dan dia termasuk salah satu orang yang suka ngibar-ngibarin bendera Slank di tengah konser Noah atau Nidji seperti yang sering kita lihat di SCTV kalo ada acara konser-konser gitu. Kalau pun beliau gabung di FPI pasti yang dibawa juga bendera Slank karena kakak gue orangnya cinta damai. Ngomong-ngomong, kakak gue ini udah punya pacar. Tapi kakak gue juga suka selingkuh. Walaupun dia punya pacar tapi dia tetap cinta sama Damai tapi pacarnya nggak marah. Ya itu sih hebatnya ketulusan cinta mereka. Sebenarnya paragraf ini bisa diskip juga sih.

Ini foto keluarga bahagia kami. Itu gue yang paling pemalu
Ini foto keluarga bahagia kami. Itu gue yang paling pemalu

Ini adalah foto keluarga kami. Gue yang paling pemalu.

Suatu hari, Ayah mengajak kami berkumpul di sebuah taman. Entah ada apa gerangan kami tidak tahu. Di dalam asumsi gue ayah akan mengajak kami bersih-bersih taman itu sebagai bentuk aksi kepedulian. Kemudian ayah memecahkan khayalan gue itu dengan memulai bercerita bahwa ia akan ditugaskan untuk bergabung dengan tim perdamaian PBB untuk Polandia. Entah apa yang terfikir saat itu oleh tim perdamaian PBB saat itu sehingga merekrut ayah kami yang notabene hanya seorang penjual amplop di depan Salman setiap hari Jum’at. Gue juga sebenarnya bingung apa alasan ayah gue berjualan amplop. Tapi itulah ayah kami, walaupun sudah tua dan sendirian (baca: jomblo), ia tidak pernah mau meminta minta dan menyusahkan orang lain. Kami sedih sesedih-sedihnya. Ivy, kakak gue sampe harus bolak-balik ke Indomaret beli tisu buat menghentikan semburan air matanya. Kak Ivy emang begitu, dia kalau nangis air matanya bisa kayak semburan lumpur sidoarjo. Kemudian setelah muncul tangis yang pecah di taman itu, ayah mengeluarkan sebuah kantong hitam dari dalam tasnya. Ternyata itu adalah sebuah sendal jepit swallow. Kata ayah, kalau kangen sama ayah peluk aja sendal itu nanti kangennya bakal hilang. Kami bertiga pun mengangguk serentak. Eh, ngomong-ngomong lumpur Sidoarjo gimana kabarnya sih? Kok gue nggak pernah liat beritanya di TV? Oh, iya gue baru ingat kalo TV kami dirumah cuma dapat siaran TVOne.

Ini adalah sendal yang dititipkan Ayah kepada kami.
Ini adalah sendal yang dititipkan Ayah kepada kami.

Tak lama kemudian, dari kejauhan muncul geng sepeda yang menyerang kami. Mereka seperti hendak menjarah kami. Menjarah harga diri kami, semangat kami, kebahagiaan kami, dan tabungan kami. Gue khawatir modus mereka saat itu tidak lain dan tidak bukan muncul setelah mendengar bahwa keluarga kami suka menabung. Oh ternyata asumsi gue salah lagi, salah seorang anggota mereka bernama Nadila menyatakan diri juga ingin ikut berperang bersama Ayah ke Polandia bersama teman-temannya. Yah, sungguh mulialah niat anak-anak bersepeda ini. Patut diberi apresiasi.

Kemudian ayah berpesan kepada kami agar dapat menjaga diri baik-baik dan jangan suka jalan-jalan ke BIP agar kami tetap menjadi anak yang rajin menabung. Ayah juga bilang, ia berencana ingin berziarah ketempat makam ibu di Lebanon. Yah, semoga ayah dan ibu bisa dipertemukan kembali.

Detik-detik sebelum keberangkatan Ayah dengan beberapa anak yang ingin berjihad di jalan Allah
Detik-detik sebelum keberangkatan Ayah dengan beberapa anak yang ingin berjihad di jalan Allah

Tidak lama kemudian, ayah pamit ke kami dan ia bergegas menuju polandia bersama teman-temannya yang telah menunggu. Semoga ayah di Polandia nanti nggak sendirian (baca: jomblo) lagi.

Ayah pergi Ternyata kami lupa untuk memperingati ayah untuk melihat kiri & kanan dahulu sebelum menyeberangi jalan.
Ayah pergi
Ternyata kami lupa untuk memperingati ayah untuk melihat kiri & kanan dahulu sebelum menyeberangi jalan.
Sore itu ternyata juga adalah hari terakhir kali kami melihat ayah dan ia pergi untuk selama-lamanya
Sore itu ternyata juga adalah hari terakhir kali kami melihat ayah dan ia pergi untuk selama-lamanya

Nyawa ayah tidak sempat tertolong untuk kami bawa ke RS Borromeus. Ayah tewas di temoat dengan usus terburai. Saat ini, Tono, seorang pengendara sepeda motor yang menabrak ayah sedang dimintai keterangan terkait pembunuhannya terhadap ayah. Pria itu dikenai pasal 359 KUHP terkait kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal. Yah, kami hanya bisa berdoa kepada Ayah semoga amal perbuatannya diterima di sisi Tuhan yang maha esa.

Seisi semesta kemudian berduka saat itu. Banyak terjadi fenomena-fenomena aneh sebelum kepergian ayah. Salah satunya adalah bulan purnama yang muncul 1 hari sebelum ayah meninggal. Kemudian juga ada fenomena aneh ketika kami menegecek twitter ayah (@AYAHIRHAM) satu hari sebelum kepulangannya

Tweet ayah beberapa saat sebelum ia meninggal.
Tweet ayah beberapa saat sebelum ia meninggal.

Lalu, bagaimanakah kelanjutan kehidupan kami di tengah hilangnya panutan bagi kami? Apakah kami masih tetap akan rajin menabung? Tunggu saja episode berikutnya.

The “Me” Campaign

ImageWhat is three words that defined you and differentiateyour from others; that make you feels unique?

I think I’m an energic, a talk-active, and a thinker.

 

What is your motto or “tagline”?

“Stars can’t shine without darkness”.

 

What is your dream?

Dulu sekali ketika masih kecil saya bercita-cita menjadi seorang jendral, hal itu saya diperlihatkan dengan menggunakan pakaian seorang jendral saat pawai tahunan murid TK di kota saya. Saya masih ingat sekali pakaian hijau tua itu dengan pluit merah di bahu.

Kemudian saat saya SD, cita-cita itu berubah lagi. Saya bercita-cita ingin jadi presiden. Entah mungkin ini adalah efek iklan salah satu suplemen untuk anak-anak atau apa, tapi yang jelas saat saya ditanya ingin menjadi apa oleh orang lain saya selalu bisa menjawabnya dengan tegas bahwa saya ingin menjadi presiden.

Saat SMP, pubertas mengubah saya. Saya tidak tahu jelas apa yang saya cita-citakan. Yang saya lakukan saat SMP hanyalah main band dan sedikit bandel.

Masa pubertas pun mulai saya tinggalkan, saya sudah mulai berfikir siapa saya dan mau jadi apa saya saat SMA. Dulu, cita-cita saya adalah ingin menemukan sebuah alat yang bisa dipasang pada knalpot kendaraan bermotor yang berfungsi mengubah gas karbon monoksida yang dihasilkan menjadi oksigen. Cita-cita ini saya rasa muncul karena saya suka dengan pelajaran kimia saat itu dan kebetulan juga saya suka dengan cara gurunya mengajar yang sesuai dengan saya.

Lalu ternyata saya berubah haluan lahi saat kuliah. Saya memilih program studi bisnis dan manajemen dengan harapan saya bisa jadi pengusaha. Pergaulan di perkuliahan dan budaya kampus mulai mengubah pemikiran saya tentang semesta. Saya pun mulai concern terhadap isu-isu seputar dunia bisnis dan sesekali juga pada pendidikan dan isu-isu kebangsaan. Dan kemudian kondisi ini mendorong saya untuk memiliki cita-cita yang baru. Jika saya sudah besar nanti saya ingin menjadi orang yang bisa mengubah TVRI dan membangunnya kembali menjadi TV kebanggan di bumi pertiwi ini. Tidak ada lagi yang mengatakan bahwa siarannya jadul atau bahkan mengejeknya. Saya ingin TVRI bisa lebih hebat dari BBC, CNN, NGC, atau Al-Jazeera. Tidak hanya itu, saya juga ingin memiliki sebuah yayasan pendidikan yang membantu masayarakat di luar pulau jawa untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan layak demi pemerataan pendidikan. Untuk cita-cita yang ini, saya ingin sekali bekerja sama dengan Indonesia Mengajar milik anies Baswedan dan fokus pada pemerataan pendidikan anak-anak di Indonesia bagian timur. Setelah ini tercapai, saya ingin melihat Pak Anies Baswedan menjadi Mentri Pendidikan Indonesia dan saya melihat pemerataan pendidikan di Indonesia benar-benar tercapai. Saya ingin semua peserta didik dari semua jenjang baik formal maupun non formal nantinya benar-benar terdidik dan bukan hanya tercerdaskan. Sehingga suatu hari ketika saya tua nanti, saya bisa tersenyum bangga dengan bangsa ini karena bumi pertiwi ini dikuasai anak bangsanya sendiri. Jika Pak Anies Baswedan tidak sanggup melakukan ini, saya yang akan melakukannya untuk Indonesia. Saya sendiri tidak menggunakan kata “mimpi” (=dreams) seperti apa yang ditanyakan sebenarnya karena kata cita-cita lebih layak untuk sebuah visi. Jika hanya bermimpi maka ketika saya bangun dari tidur semua hal yang saya mimpikan akan hilang.

Kenyataan Dibalik Mahasiswa yang Sibuk

20130630-184539.jpg

Menurut gue:

Mahasiswa yang merasa terlalu sibuk dengan tugasnya di suatu hari adalah mahasiswa yang juga sibuk menunda tugasnya di hari sebelumnya. Kalo mahasiswa udah biasa terlalu sibuk setiap hari dengan artian nggak pernah menunda-nunda pekerjaanya ya dia pasti udah nggak merasa sibuk lagi karena udah terbiasa.
Jadi, kesimpulannya mahasiswa yang suka menunda-nunda tugas ialah mahasiswa yang sok sibuk. Dan gue adalah mahasiswa yang suka menunda-nunda tugas.”

Perjalanan Pra-SNMPTN-ku (Part 2)

… dan bertanggung jawab atas keputusan saya saat itu. Nah, dengan  pengetahuan yang tidak sampai 30% tadi saya mencoba belajar untuk mengetahui dan menguasai 70 persen sisanya dalam jangka waktu lebih kurang 2 bulan.

Perjalanan saat itu masih panjang. Pengunguman SNMPTN undangan saat itu akhirnya menjadi titik balik bagi saya untuk setelahnya meningkatkan usaha saya mengejar ketertinggalan. Terlebih target saya adalah ITB yang notabene diinginkan oleh banya putra-putri terbaik bangsa. Sedangkan saya putra-putri terbaik kecamatan saja belum.

Saat itu saya langsung memasang target terbesar saya dengan memotong-motongnya dalam target harian dengan harapan saya bisa mencapai target harian tersebut dan sedikit demi sedikit saya akan mencapai target yang saya inginkan di akhir perjuangan saya. Saya langsung menjadwalkan rutinitas saya saat itu juga. Adalah Fajri Amrullah, seorang teman kosan saya saat itu yang mengajari saya tentang perjuangan dan komitmen pada cita-cita dan rencana yang saya buat. Fajrilah yang membuat saya terjaga untuk tetap mempertahankan saya untuk tetap ingat dan berjuang. Dia yang mengajari saya tentang bagaimana shalat tahajud dan shalat dhuha, bagaimana memulai belajar dari jam 5 pagi nonstop sampai jam 10 malam. Ia yang membuat saya dekat dengan Tuhan. Menjelaskan saya bahwa Tuhan adalah tempat ita meminta dan percaya padanya adalah cara yang paling ampuh untuk membuat setiap hari perasaan selalu ikhlas dan bersyukur atas apa yang telah didapatkan.

Sampai suatu ketika disaat ujian tertulis hanya tersisa 2 minggu lagi, saya dan Fajri mengambil keputusan untuk tidak mengikuti bimbel lagi dengan harapan dapat belajar secar efektif di kosan dengan cara yang diinginkan. Ini terjadi setelah kami melihat hasil try out kami yang masih belum mencapai target sedangkan ujian tinggal beberapa hari lagi. Keputusan untuk tidak meneruskan bimbel memang spekulatif, tapi jika bisa memegang teguh komitmen rencana yang disusun  akan bisa berjalan lancar.

Pola belajar kami pun berubah menjadi sedikit ekstrem. Belajar dimulai setelah shalat subuh hingga pukul 8 pagi. Lalu setelah sarapan dan shalat dhuha pukul 9 belajar disambung kembali hingga zuhur. Pukul 1 siang setelah shalat zuhur dan makan siang selesai dilaksanakan, belajar kembali dilanjutkan hingga menjelang ashar. Dalam jadwal, setelah ashar adalah waktu santai hingga maghrib. Namun itu hanyalah wacana. Kami melanjutkan belajar hingga maghrib. Setelah maghrib, kami makan malam dan sesekali membaca al-quran hingga Isya. Setelah isya, belajar dilanjutkan hingga pukul 10 malam. Kadang juga belajar baru berhenti pukul 11. Saat itu kami hanya belajar dengan memutar CD Zenius di laptop dan sesekali membahas soal tambahan dari buku 1001 soal terbitan erlangga. Ini kami lakukan setiap hari. Dan metode ini menurut kami jauh lebih efektif ketimbang belajar di bimbel.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Besok adalah ujian tertulis SNMPTN yang menjadi penentu masa depan kami itu. Tidak hanya masa depan, penentu jodoh mungkin juga. Lokasi ujian saya dan Fajri kebetulan sama. Bukan kebetulan juga sih, saya memang merencanakan itu dengan Fajri agar bisa memudahkan mobilitas saat ujian berlangsung.

Di satu hari sebelum ujian berlangsung saya dengan Fajri memang sudah sepakat untuk tidak belajar agar tenang dan tidak stres sebelum ujian berlangsung. Kami sempat membeli beberpa batang coklat. Semenjak belajar dangan Fajri, saya sering mongonsumsi coklat sebagai penghilang stres. Beberapa kali juga saat belanja di supermarket kami mempertimbangkan tabel gizi yang ada dibelakang sebuah produk. Ya biasalah, baru belajar biologi jadi semuanya dikait-kaitin. Jadi semakin sadar ternyata tahu bukan sekedar untuk ujian itu keren. Ternyata semua ilmu bisa dimanfaatkan untuk mengambil keputusan sehari-hari. Malam sebelum ujian saya sempat tidak bisa tidur. Malam itu perasaan saya nggak jelaslah pokoknya. Saya menangis selama satu jam dan nggak bisa tidur. Entah disebabkan oleh apa, mungkin karena perasaan takut nggak lulus kali ya. Saya nangis selama satu jam di tempat tidur. Malam itu juga saya ditelpon orang tua saya. Mereka memberikan sprit sekaligus arahan agar saya tenang malam ini dan menghadapi Ujian besok dnegan kesiapan untuk menerima kenyataan apakah lulus atau tidak. Saya terharu saat itu.

Hari ujian pun tiba, saya mendapat tepat di gedung kuliah salah satu fakultas di Universitas Negeri Padang. Hari pertama dihiasi sedikit insiden, yaitu dokumen wajib yang harus dibawa pada saat ujian ketinggalan. Namun masalah ini akhirnya bisa diselesaikan setelah saya mencoba menemui panitia lokal dan saya diizinkan mengikuti ujian asal besok saya membawa kembali dokumen yang dimaksud.  Saya ditempatkan di kelas yang sama dengan Fajri. Jika kalian ingin tahu bagaimana caranya ini bisa terjadi coba baca https://zulwiyozaputra.wordpress.com/2013/05/26/trik-agar-bisa-satu-ruangan-dengan-teman-saat-ujian-sbmptn/ Ujian berjalan lancar di hari pertama dan hari kedua. Setidaknya saya dapet menjawab sekitar 50 persen soal di kemampuan IPA dan 60 persen di kemampuan IPS, untuk kemampuan dasar, saya hanya menjawab sekitar 45 persen.

Beberapa hari setelah ujian saya kembali ke Dumai. Disana saya dan Fajri sempat memeriksa jawaban saya dengan kunci jawaban yang beredar di internet. Waktu itu ujian berlangsung saya sempat mencatat jawaban saya di soal ujian yang diperbolehkan untuk dibawa pulang. Dan hasilnya adalah saya mendapatkan passing grade (kalo nggak salah) sekitar 52% untuk kemampuan IPS dan 46% untuk kemampuan IPA. Ini membuat saya cemas, pasalnya untuk lulus di SBM ITB yang merupakan pilihan pertama saya membutuhkan passing grade setidaknya 54% saat itu. Hari-hari saya selanjutnya hanya diisi dengan kekhawatiran.

Akhirnya hari pengnguman pun tiba. Saya sangat takut dan pesimis akan hasilnya setelah mengecek jawaban saya. Sepanjang shalat maghrib hingga doa saya hanya bisa menangis khawatir atas hasil pengunguman nanti. Pengunguman dijadwalkan dipercepat beberapa hari saat. Pukul 7 hingga hitungan menit yang artinya nasib saya ditentukan dengan beberapa menit ke depan apakah saya akan lulus di ITB atau tidak. Waktu itu kebetulan modem tidak mau nyala entah kenapa jadi saya memutuskan untuk melihat dengan hape saya. Ternyata halamannya juga tak mau terbuka padahal sudah pukul 7 lewat 10 menit. Akhirnya mama mengajak saya untuk kerumah tetangga untuk minjam internetnya biar bisa buka pengunguman dan ternyata nggak bisa dibuka juga. Sembari menunggu bisa terbuka saya tetap mencoba membuka dari hape saya dan tetap tidak bisa. Akhirnya saya pasrah untuk membuka dari hape dan tetap menunggu koneksi internet tetangga saya. Kemudian masuk SMS dari se

seorang di hape saya yang menanyakan hasil pengunguman. Saat saya menutup pesan tersebut ternyata halaman snmptn.ac.id telah terbuka dan terpampang dengan jelas:

IMG_0100

saya sungguh sangat terharu . Saya hanya bisa menangis haru saat itu sambil memeluk mama saya. Lalu kami pun

pulang kerumah untuk ngabarin Papa kalo saya lulus di ITB. Namun sayang papa belum pulang dari masjid. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya papa pun datang dari balik pintu. Mama

langsung meluk Papa di depan pintu. Kemudian papa heran melihat istri dan anaknya yang sedang nangis. Kemudian muncul kata-kata dari mulut mama dengan lembut dengan bahasa minang, “anak kita lulus di ITB, Pa.” Sontak mereka berdua menangis haru sambil berpelukan dan papa mencium kening mama. Tangis saya tambah kencang saat itu melihat peristiwa ini. Bukan karena apa-apa, saya terharu melihat kejadian ini. Seolah ini adalah puncak kebahagia

an orang tua dan merupakan apa yang diharapkan orang tua dari anaknya. Tapi perjalanan saya masih panjang.