Ternyata Mending Ditilang Daripada Harus Bayar Uang Damai

Wah, ternyata pengurusan untuk STNK yang ditilang tidak seburuk apa yang saya bayangkan ya. Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Jumat, 25 Oktober 2013 saya bangun pagi lebih awal dari biasanya. Bukan karena dalam tidur mendapat wahyu dari Tuhan kemudian berubah seketika saat bangun, tapi karena pada hari itu tidak ada kuliah pukul 9 dan seorang teman bernama Dezky mengajak saya bermain futsal pagi sekali. Terpaksalah mata ini bangun lebih awal demi secercah cahaya kesehatan yang dikirim Tuhan bersama sebungkus olahraga bernama futsal.

Seusai futsal, terjadi obrolan anak jantan yang sedikit jantan menjelang pulang. Waktu ngobrol obrolan jantan itu pun terpaksa harus berhenti mengingat waktu sudah menunjukan akan masuk waktu shalat Jumat. Saya dan Dezky bergegas pulang, kebetulan kami satu tempat kosan sehingga pergi dan pulang Dezky bareng (nebeng -red). Entah karena apa atau apa waktu itu saya buru-buru sekali sampai-sampai harus melanggar rambu-rambu lalu lintas di simpang Dago. Saya yang bergerak dari arah utara langsung berputar pada larangan berbalik arah tepat di depan McD Dago menuju ke utara agar dapat segera langsung tiba di kostan saya, Jalan Cisitu Lama.

Dan kemudian, bingo! Seorang polisi berompi hijau yang khas lengkap dengan kaca mata hitam terpasang di atas tulang hidungnya langsung memberhentikan kami tepat beberapa saat setelah kami memutar. Saat itu saya tidak tau harus melakukan apa, apakah harus kabur dan tancap gas di keramaian jalan Dago yang dipenuhi sesaknya kendaraan atau menyerah dan berhenti dan mengaku salah. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti walau sebelumnya Dezky sempat berteriak di belakang saya untuk memerintahkan kabur.

 

damai-itu-20000Saya langsung dikenai pasal berlapis. Saya melakukan beberapa kesalahan sekaligus; melanggar rambu-rambu lalu lintas, menerobos lampu merah, dan tidak memakai helm (kebetulan Dezky saat itu tidak memakai helm). Bahkan yang lebih parahnya lagi, ternyata SIM C saya saat itu sudah habis masa berlakunya sejak agustus lalu. Saya sama sekali tidak menyadari hal itu. Sempat kepikiran oleh saya untuk membayar “uang damai” dengan polisi yang sedang lapar ini tapi saya enggan melakukan itu. Rasa penasaran dengan proses hukum yang saya jalani pun menjadi motivasi saya untuk tidak damai dengan polisi seperti kebanyakan orang lakukan. Ya setidaknya saya bisa sedikit bangga punya integritas dan membuat polisinya kesal karena tidak mendapatkan barang buruannya dari saya.

Dengan pasal berlapis, saya dijadwalkan untuk mengikuti proses persidangan pada hari Jumat, 1 November 2013. Beberapa hari sebelum proses persidangan saya sempat mencari tahu informasi mengenai proses hukum yang akan saya jalani nantinya di Internet. Begitu membaca undang-undangnya dan melihat hukumannya saya pun menjadi was-was karena di salah satu pasal tertulis hukuman yang diterima adalah maksimal kurungan penjara beberapa bulan atau subsider denda maksimal 500 ribu. Saya merasa seperti seorang tersangka yang ada di TV-TV yang akan disidang menggunakan pakaian berwarna biru atau jingga bertuliskan tersangka di punggung. Oh, man!

Hingga 1 november pun tiba. Karena tulisan polisi di surat tilang yang saya terima beda-beda tipis dengan tulisan dokter dan jadwal kuliah saya juga padat pada hari itu saya baru bisa mengunjungi kantor polisi sore hari pukul 4. Begitu saya tiba di kantor polisi Bandung yang di jalan merdeka tepat di depan balai kota saya langsung  mencoba menghampiri beberapa polisi yang berjaga di pos keamanan dan bertanya apa yang harus saya lakukan untuk mengambil STNK saya yang ditilang. Sebelum saya bertanya saya juga sudah menyiapkan beberapa pernyataan counter apabila ada kata-kata polisi yang memancing saya untuk berdebat. Putra orangnya emang sok iye gitu sih. Dan apa yang saya dapatkan? Saya kira bapak-bapak polisi ini akan menjawab saya dengan ketus dan saya menjawab dengan beberapa pertanyaan yang mengritik. Tapi ternyata bapak-bapak polisinya menanggapi saya dengan sangat ramah sekali. Dengan logat sundanya, bapak-bapak disana mengatakan kalau saya seharusnya datang ke pengadilan negeri di jalan Riau dan sekarang sudah tutup. Saya disuruh kembali besok, jika lewak seminggu, maka kasus saya akan dilimpahkan ke kejaksaan. Kemudian saya memutuskan pulang dengan sedikit tenang. Ternyata masih ada polisi yang ramah ya.

Saya baru memenuhi panggilan pengadilan seminggu setelah perkara saya di sidangkan karena padatnya jadwal kuliah dan kesibukan saya yang lain. Saya datang ke pengadilan sekitar pukul 11 siang pada hari Senin, 11 November 2013. Ada yang aneh memang disini, begitu saya memarkinkan kendaraan saya di depan pengadilan negeri bandung yang terletak di jalan Riau 2 orang bapak-bapak langsung menghampiri saya menanyai apakah saya datang untuk memenuhi panggilan sidang. Mereka adalah calo yang biasa mengurusi orang yang tidak ingin repot-repot mengikuti persidangan dan saya lihat ada seorang polisi bersama mereka dan terlihat polisi itu membiarkan aksi mereka seolah sudah bekerjasama. Tapi saya sama sekali tidak menjawab pertanyaan kedua bapak tadi dan langsung masuk ke gedung pengadilan. Di bagian informasi saya dilayani dengan cara yang kurang ramah, jawaban yang seadanya, dan ketus. Mereka mengatakan kasus saya sudah dilimpahkan ke kejaksaan dan STNK saya dapat diambil di kejaksaan negeri bandung di jalan Jakarta.

gal64232644

Sesampainya di kejaksaan tinggi saya langsung ke bagian tilang. Disana sudah ada petugas yang melayani. Mereaka meminta surat tilang saya dan mempersilakan saya menunggu sejenak. Beberapa saat kemudian saya dipanggil dan disebutkan dikenai denda sebesar 75 ribu rupiah. Saya langsung membayarnya dan STNK saya sudah kembali ke tangan saya. Ternyata prosesnya tidak sesulit yang saya bayangkan. Kemudian saya kembali ke kampus dengan tenang karena harus mengikuti kuliah selanjutnya.

Di jalan saya berpikir untuk 4 pasal yang dikenakan pada saya, saya hanya cukup membayar 75 ribu. Bayangkan jika saya suatu waktu ditilang karena tidak pake helm kemudian saya membayar “uang damai” pada polisi sebesar 100 ribu. Mana yang untung? Saya pun yakin jika

sebenarnya kesalahan saya lebih sedikit dan saya mengikuti kasus persidangan saya hanya membayar beberapa saja. Bahkan saya sempat membaca beberapa tulisan di internet yang hanya dikenai denda sebesar 15 ribu. Lalu kenapa kita masih lebih banyak memilih membayar puluhan ribu pada polisi dibandingkan hanya membayar belasan ribu pada negara?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s