Blackberry akan Dibeli Orang Indonesia?

UTS untuk mata kuliah Decision Making baru saja berakhir pada pukul 10.00. Peserta ujian seisi auditorium saat itu satu per satu mengumpulkan lembar jawabannya masing-masing. Saya keluar dari ruang ujian dengan wajah stress kemudian duduk di perpustakaan untuk menunggu ujian selanjutnya, Logic & Critical Thinking pada pukul 10.30. Sepanjang ujian berlangsung handphone saya berdering lebih banyak dari biasanya. Ahmad, adalah salah satu dari teman saya yang mengirim pesan agar saya meng-invite-nya ke kontak BBM saya melalui WhatsApp. Benar, Blackberry baru saja meluncurkan kembali BBM untuk platform iOS dan Android hari ini setelah sebulan yang lalu Blackberry menariknya dari Google Playstore dan Appstore akibat banyak beredarnya aplikasi BBM palsu dan ketidak-siapan sistem.

Saya sendiri termasuk salah satu yang beruntung telah menggunakan Blackberry Messenger di perangkat iOS saya sejak sebulan yang lalu. Pasalnya setelah saya mendownload BBM pada iPhone saya pada dini hari, paginya Blackberry menarik kembali aplikasinya dari Google Playstore dan Appstore. Walau telah ditarik, BBM yang sudah diunduh masih dapat digunakan di perangkat saya.

Hari ini pengguna BBM akan banyak diunduh oleh pengguna iOS dan Android. Terlihat dari laman AppStore bahwa Blackberry hingga saat ini menduduki peringkat teratasi sebagai top free application. Blackberry melalui media menyatakan diri bahwa mereka percaya bisa menghancurkan kekuatan WhatsApp di pasar pesan cepat dan membuat pengguna smartphone beralih menggunakan BBM sebagai aplikasi pesan cepat utama mereka. Namun apakah peralihan ini nantinya menjamin suksesnya BBM dan bahkan membuat Blackberry berjaya? Belum tentu.

Sejauh ini pengamatan saya saat menggunakan BBM di iPhone saya, saya menilai BBM tidak lebih baik dibandingkan WhatsApp. Kerap kali BBM memiliki masalah-masalah mendasar seperti pesan yang pending atau bahkan tidak dapat terkirim sama sekali. Sebulan yang lalu saya sempat merasakan euphoria bangga menggunakan BBM di ponsel saya namun euphoria ini mulai hilang setelah saya sadar BBM mulai “Bertingkah”. Pada awal saya mengunduh BBM di iPhone saya, saya sempat menghapus WhatsApp dengan harapan saya akan lebih mudah menghemat baterai dengan hanya menggunakan satu layanan pesan singkat saja. Ternyata ekspektasi saya terlalu besar pada BBM. Seminggu setelah saya menghapus Whatsapp saya mengunduhnya kembali.

BBM di perangkat saya
BBM di perangkat saya

Pengalaman saya yang sebelumnya terbiasa menggunakan WhatsApp membuat saya berpikir BBM masih tidak lebih baik dibandingkan WhatsApp. Pending disana-sini dan aplikasi yang sering sekali muncul bug membuat saya terpaksa memperkecil harapan saya pada BBM. Awalnya saya hanya berpikir mungkin ini terjadi hanya karena aplikasi ini belum siap dan berharap perbaikan terjadi pada update selanjutnya. Hari ini kemudian saya mengg-update BBM ke versi terbaru namun yang terjadi sama saja. Masih banyak pending dan bugs dimana-mana seperti biasa. Bedanya hanya tampilan BBM yang terbaru kali ini memiliki kompatibelitas dengan iOS 7, terlihat dari tampilan keyboardnya yang baru. Hal ini harusnya membuat Blackberry berpikir bahwa posisi mereka tidak aman sekarang.

Boleh saja saya skeptis terhadap performa BBM di iOS dan Android yang buruk dan beranggapan bahwa Blackberry sedang tidak aman. lalu jika BBM tidak akan terlalu baik bekerja di iOS dan Android, apakah BBM berjaya di kandangnya sendiri, Blackberry? Ternyata juga belum tentu. Saya juga melihat akhir-akhir ini beberapa dari teman saya yang menggunakan Blackberry lebih senang menggunakan WhatsApp dan Line untuk pesan cepat dibandingkan BBM. Selain karena pengguna Blackberry sudah berkurang dan kemudian lebih banyak yang beralih menggunakan iPhone atau Perangkat android untuk pilihan smartphone mereka, ternyata pengguna Blackberry sendiri juga merasakan hal yang sama. Mereka juga mengakui bahwa BBM sering bermasalah di Blackberry, berbeda jika mereka menggunakan WhatsApp atau Line. Mungkin hanya beberapa dari pengguna Blackberry yang menggunakan Line. Pasalnya Line kerap sekali dianggap “berat” untuk dijalankan di Blackberry. Pada akhirnya, tinggallah mereka yang hanya berlangganan paket “gaul” atau paket yang layanan internetnya tidak bisa dipakai untuk menggunakan WhatsApp, Line, atau semacamnya saja yang tetap loyal bersama BBM di Blackberry. Atau bahkan ada kemungkinan bahwa mereka juga nantinya akan berlaih? Siapa tahu.

Prediksi saya, jika BBM tetap tidak bisa memberikan layanan pesan cepat atau justru memberikan layanan pesan lambat pada penggunanya maka saya khawatir akan ada banyak pengguna BBM yang satu per satu setelah 1 atau 2 minggu menggunakan BBM di iOS atau Android mereka malah menghapus aplikasi ini dari perangkat mereka masing-masing. Hal ini bukan tidak mungkin, hal ini dikarenakan orang-orang tentu cenderung akan memilih layanan yang akan memberikan mereka kemudahan; bukan kesulitan.

Bagaimana nasib Blackberry kemudian? Jika ini terus berlanjut, maka Blackberry tentunya harus sudah siap memasuki persaingan terbuka dengan kompetitornya, Apple dan Android. Jika dulunya Blackberry masih dengan santai bisa membangga-banggakan layanan pesan cepatnya sebagai nilai tambah perangkat mereka maka kini mereka harus sudah siap dengan perang inovasi atau jika tidak maka Blackberry akan bernasib sama dengan mantan raksasa ponsel asal Finlandia, Nokia. Pilihan akhirnya bisa jadi Blackberry bangkrut atau dibeli oleh perusahaan lain akibat Blunder BBM sakit yang ditawarkannya. Atau juga bisa jadi Blackberry akan dibeli oleh orang Indonesia. Bisa jadi. Siapa yang tahu? hahaha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s