Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu sederhana. Kalimat itu muncul di benak saya pertama kali saat mengakhiri liburan 3 hari 2 malam saya ke Depok di akhir pekan. Ide liburan kali ini memang cukup ekstrem mengingat bahwa satu hari setelah liburan selesai, minggu UTS menunggu. Berangkat dari keinginan untuk memberikan Debby perjalanan Kereta Api pertamanya akhirnya liburan ini terealisasikan dengan pengalaman yang membahagiakan.

Tiket Kereta api
Tiket Kereta api

Berangkat pukul 4 sore menggunakan kereta api argo parahyangan saya dan Debby pun memulai perjalanan dari stasiun Bandung menuju stasiun Jatinegara dengan dihiasi lukisan-lukisan pemandangan yang bergerak-gerak di jendela gerbong. Inilah salah satu alasan saya senang sekali naik kereta api di Bandung. Sketsa-sketsa rapih tentang persawahan, perbukitan, dan kehidupan desa yang masih perawan menjadi teman perjalanan selepas melewati stasiun padalarang. Sekejap teringat adegan film Harry Potter ketika ia dan temannya sedang dalam adegan di kereta api.

Perjalanan berlangsung selama lebih kurang 3 jam. Kami sampai di sambut dengan udara kering dan panasnya ibukota. Kami turun di stasiun Jatinegara dan melanjutkan perjalanan ke stasiun UI menggunakan KRL commuter. Dan kebetulan sekali kami tiba sekitar pukul 7 malam dan itu artinya perjalanan kereta yang kami lakukan selanjutnya adalah perjalanan yang berbanding terbalik dengan perjalanan dari Bandung ke stasiun Jatinegara. Saat itu suasana sedang dalam waktu pulang jam kantor dan itu artinya satu gerbong bisa diisi oleh jutaan umat manusia pencari nafkah yang baru pulang dari kantornya mencari rupiah dengan bercucur keringat. Efeknya adalah cucuran keringat mereka mengering di pakaian yang mereka pakai di tubuh mereka yang berdiri di gerbong sambil tangan mereka bergantung di gantungan kereta. Paru-paru saya bisa saja mati jika saja saya melanjutkan perjalanan ke Bandung dengan kondisi seperti itu. Tapi ya beginilah transportasi umum ibukota yang tak jauh beda padatnya dengan jalanannya.

Tiba di stasiun UI, kami di jemput untuk dibawa oleh teman-teman kami di basecamp masing-masing. Debby dijemput oleh salah seorang teman SMAnya yang kini berkuliah di Sastra Korea UI. Debby mengenalkannya, namanya Haryn. Anaknya berjilbab dan keliatannya asik. Asik buat dibully juga sih. Doi juga penggemar gila-berat-banget Korea-korea gitu. Tergambar sih dari isi timeline twitternya yang hanya berisi huruf latin untuk tulisan “RT” dan username saja. Begitu impresi awal saya.

Yoki tiba untuk menjemput kira-kira 15 menit setelah Haryn muncul dari kegelapan malam (halah). Yoki adalah teman SMA saya. Anaknya freak, garing, dan kurus. Hobinya ngoding dan ngegaring. Beliau adalah mahasiswa tingkat 2 di Sistem Informasi UI. Dulu di SMA kami sempat, satu kelas selama 2 tahun dan sempat berada pada tim olimpiade matematika yang sama. Ya, setidaknya sebelum saya dikeluarkan dari tim olimpiade matematika itu karena sibuk main basket dan pindah ke tim sastra. Oh iya, selain ngegaring, beliau juga hobi ngingat mantan. Lalu apa yang terjadi setelah saya sampai di basecamp-nya si Yoki ini? Benar, tidur.

Hari Sabtu diawali dengan jalan-jalan ganteng keliling UI dengan Debby dan Haryn. Diawali dengan makan siang di salah satu restoran korea di yang berlokasi di sekitar perpus sembari menunggu Yoki yang sedang UTS katanya. Ini bukan pertama kali saya berkunjung ke kampus kuning ini. Beberapa bulan yang lalu saya juga pernah, namun ada yang berbeda dengan perjalanan kali ini. Saya ditemani oleh Debby. Iya, Debby itu pacar saya (hehehe malu waktu mau nulis ini).

Ada lagi yang berbeda dengan liburan kali ini. Perjalanan kami ke UI membawa misi suci untuk ngeceng-cengin Yoki dan Haryn. Misi pertama kami adalah double date. Sore itu langit depok sedang gelap akan turun hujan dan kami menggaul berjamaah ke Margo City. Kata Yoki, mall ini adalah mall tergaul di Depok. Berita ini membuat saya semacam akan tiba-tiba dikutuk gaul setelah masuk Margo. Maklum di Dumai cuma ada Ramayana yang nggak hang-out-able.

Putra dan Haryn
Putra dan Haryn
Tawa makan malam
Tawa spesial

Malam itu misi kami ternyata berjalan dengan sukses. Walaupun Haryn dan Yoki katanya sudah saling mengenal sejak lama ternyata mereka berdua masih canggung.  Kami patut berterima kasih pada saat itu kepada Margo city dan Cinema 21. Diawali dengan nonton berjamaah film Captain Philips yang sabi dan ditutup dengan makan malam garing di Lotteria ternyata mampu membuat Yoki dan Haryn cair. Sedikit jokes garing yang muncul saat kami makan pun cukup membantu membuat mereka berdua akhirnya mulai ngobrol.

Ternyata malam itu tidak berakhir sampai disitu. Hari itu, 19 Oktober, Haryn ternyata sedang merayakan ulang tahunnya yang entah ke berapa. Saya dan Yoki langsung ditugasi oleh Debby untuk mencari sedikit peralatan dan amunisi untuk ngerjain Haryn. Tugas itu pun terlaksana dengan baik sesuai teknis lapangan yang telah direncanakan. 4 buah telur ayam dan setengah kilogram tepung sukses bersarang di kepala Haryn yang dibalut kerudung  dan mencipta tawa bahagia diantara kami malam itu seolah membuat 4 orang ini lupa bahwa ada UTS menyambut mereka di hari Senin dan hari-hari setelahnya. Ada satu hal yang ternyata saya lupa di hari itu, 19 Oktober 2013. Hari ini tidak hanya menjadi hari bahagia bagi Haryn karena berulang tahun. Hari ini juga menjadi pelengkap kebersamaan kami setelah bersama selama 2 bulan. Padahal rasanya baru kemarin. Semoga saja sepuluh tahun atau 50 tahun lagi saya masih merasakan kalimat “baru kemarin” itu. Amin.

19 Oktobernya selesai. Hari ini 20 Oktober dan itu artinya pulang ke Bandung. Itu juga berarti kembali ke dunia nyata setelah 3 hari 2 malam lari dari kenyataan. Begitu pulalah yang dialami oleh Haryn. Pagi itu misi kami mendekatkan mereka sepertinya harus berakhir begitu saat kami meninggalkan Depok. Ya, setidaknya saya dan Debby telah berhasil memberikan teman baru pada teman kami masing. Saya dan Debby pulang dengan bus dan berangkat dari stasiun bus Depok pukul 4 sore.

Di Bus, saya dan Debby banyak mengobrol banyak tentang perjalanan 3 hari 2 malam ini. Semua mungkin sudah ada Yang merencanakan. Mungkin jika saja kami di Depok lebih lama atau lebih cepat kami tidak akan dapat pengalaman yang sama baiknya. Ada banyak kebahagian berceceran dan kemudian saya kumpulkan satu per satu dari sana. Mulai dari mengenali teman baru dan menjadikannya akrab dalam waktu singkat hingga hal-hal lain yang tidak cukup hanya diceritakan pada beberapa paragraf.

Bahagia itu ternyata sesederhana pikiran melupakan beban yang membuat saya tertekan. Melupakan tugas-tugas kuliah, organisasi, dan kepanitiaan. Melupakan ujian-ujian tengah semester. Melupakan masalah-masalah kecil hingga besar. Dan yang terpenting berada dekat dengan orang-orang yang dicintai. Mungkin ini sedikit terdengar melupakan tanggung jawab dan lari dari kenyataan yang sedang kusut. Tapi apakah berhenti sejenak kemudian membenahi pikiran adalah sebuah kesalahan? Ada hal yang harus dibayar memang. Bahagia itu sederhana memang. Sesederhana melihat orang yang dicintai naik kereta untuk pertama kali, berada dengan jutaan manusia dalam 1 gerbong, dan sesederhana melihat kebahagiaan orang lain.

Haryn dan Debby
Haryn dan Debby

Terima kasih untuk waktunya Yoki Ardzian Adlan, Haryn Scania, dan Debby Rahmalia.

Advertisements

7 thoughts on “Bahagia itu Sederhana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s