Kisah Keluarga Caplok Kelompok 20

Akhirnya gue mulai juga menulis kalimat pertama ini. Setelah banyak mantan kalimat pertama yang gue tulis kemudian gue hapus lalu gue tulis lagi setelah itu gue hapus dan begitu seterusnya sampe akhirnya menjadi seperti sekarang. Ya ibaratnya kalo kalimat pertama ini layaknya seorang cewe, mantan gue udah banyaklah. Oh iya, sebelumnya kenalin, nama gue Zulwiyoza Putra dan gue anaknya pemalu. Ngomong-ngomong nama, penciptaan nama gue itu ada sejarahnya lho. Bung Karno kan juga pernah berkata, “bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah melupakan sejarah bangsanya.” Nah, jadi nama gue terdiri dari Zulwiyoza dan Putra. Zulwiyoza itu akar katanya adalah Zul, Wi, dan Yoza. Ini nggak ada hubungannya dengan konspirasi wahyudi kok, sumpah. Yoza berasal dari potongan nama bokap gue, Mayoza. Wi adalah penggalan dari nama nyokap gue, Meina Swita. Dan Zul diambil dari Nuzul Quran karena gue waktu itu lahir tepat 17 Ramadhan. Jadi sebenarnya gue berulang tahun versi kalender hijriah hari ini. Ucapin selamat dong.

Sebenarnya lu bisa aja skip langusng paragraf 1 ke paragraf ini karena paragraf sebelumnya menurut gue nggak penting. Alkisah, hiduplah suatu keluarga yang damai, sehat sentosa, dan sejahtera di sebuah negeri. Keluarga itu kini terdiri dari seorang ayah, 2 anak perempuan, dan 1 anak laki-laki yang pemalu. 1 anak laki-laki yang pemalu itu ngomong-ngomong adalah gue. Kami memang tidak memiliki Ibu lagi, karena ibu kami meninggalkan kami pergi ke Jordania untuk menjadi TKW selama 7 kali puasa dan 7 kali lebaran. Ibu kami menurut berita yang kami dapat diperkosa oleh majikannya dan jasadnya tidak dapat dipulangkan ke Indonesia. Karena keterbatasan biaya juga, akhirnya Jasad ibu kami hanya bisa sampai Lebanon dan ibu kami dikebumikan di sana. Tinggalah kami dengan seorang ayah bernama Irham. Irham bagi gue adalah sosok ayah yang sangat tangguh, ramah, dan rajin menabung. Ayah gue, Irham, bukanlah orang yang pemalu seperti gue anaknya. Konon kata tetangga yang sempat ngedonor air susunya ke gue waktu kecil, Ibu gue juga bukan sesorang yang pemalu. Sampai suatu saat gue sempat memutuskan untuk berniat melompat dari atas gedung PAU gara-gara gue merasa seperti anak yang tertukar. Jadi, gue berfikir kalau gue bukan lahir dari keluarga seperti ini, gue pasti lahir dari orang kaya yang punya rumah besar dan selalu ngeributin masalah warisan dari orang yang lupa ingatan kayak di sinetron-sinetron. Tapi akhirnya gue mengurungkan niat itu, karena pemandangan dari atas lantai PAU juga indah dan gue pikir gue belum pernah makan di kantin barak seumur hidup yang katanya banyak anak arsi yang cuakepz-cuakepz. Jadi, mungkin besok-besok aja.

Kakak gue, Ivy dan Pricillia adalah kakak yang baik hati dan rajin menabung. Ivy orangnya pemalu sama kayak gue, walaupun gue lebih pemalu sih. Sedangkan Pricillia adalah orang yang cinta damai kayak Slank. Gue curiga Kakak gue yang satu ini adalah salah seorang ormas separatis yang menamai diri Slankers dan dia termasuk salah satu orang yang suka ngibar-ngibarin bendera Slank di tengah konser Noah atau Nidji seperti yang sering kita lihat di SCTV kalo ada acara konser-konser gitu. Kalau pun beliau gabung di FPI pasti yang dibawa juga bendera Slank karena kakak gue orangnya cinta damai. Ngomong-ngomong, kakak gue ini udah punya pacar. Tapi kakak gue juga suka selingkuh. Walaupun dia punya pacar tapi dia tetap cinta sama Damai tapi pacarnya nggak marah. Ya itu sih hebatnya ketulusan cinta mereka. Sebenarnya paragraf ini bisa diskip juga sih.

Ini foto keluarga bahagia kami. Itu gue yang paling pemalu
Ini foto keluarga bahagia kami. Itu gue yang paling pemalu

Ini adalah foto keluarga kami. Gue yang paling pemalu.

Suatu hari, Ayah mengajak kami berkumpul di sebuah taman. Entah ada apa gerangan kami tidak tahu. Di dalam asumsi gue ayah akan mengajak kami bersih-bersih taman itu sebagai bentuk aksi kepedulian. Kemudian ayah memecahkan khayalan gue itu dengan memulai bercerita bahwa ia akan ditugaskan untuk bergabung dengan tim perdamaian PBB untuk Polandia. Entah apa yang terfikir saat itu oleh tim perdamaian PBB saat itu sehingga merekrut ayah kami yang notabene hanya seorang penjual amplop di depan Salman setiap hari Jum’at. Gue juga sebenarnya bingung apa alasan ayah gue berjualan amplop. Tapi itulah ayah kami, walaupun sudah tua dan sendirian (baca: jomblo), ia tidak pernah mau meminta minta dan menyusahkan orang lain. Kami sedih sesedih-sedihnya. Ivy, kakak gue sampe harus bolak-balik ke Indomaret beli tisu buat menghentikan semburan air matanya. Kak Ivy emang begitu, dia kalau nangis air matanya bisa kayak semburan lumpur sidoarjo. Kemudian setelah muncul tangis yang pecah di taman itu, ayah mengeluarkan sebuah kantong hitam dari dalam tasnya. Ternyata itu adalah sebuah sendal jepit swallow. Kata ayah, kalau kangen sama ayah peluk aja sendal itu nanti kangennya bakal hilang. Kami bertiga pun mengangguk serentak. Eh, ngomong-ngomong lumpur Sidoarjo gimana kabarnya sih? Kok gue nggak pernah liat beritanya di TV? Oh, iya gue baru ingat kalo TV kami dirumah cuma dapat siaran TVOne.

Ini adalah sendal yang dititipkan Ayah kepada kami.
Ini adalah sendal yang dititipkan Ayah kepada kami.

Tak lama kemudian, dari kejauhan muncul geng sepeda yang menyerang kami. Mereka seperti hendak menjarah kami. Menjarah harga diri kami, semangat kami, kebahagiaan kami, dan tabungan kami. Gue khawatir modus mereka saat itu tidak lain dan tidak bukan muncul setelah mendengar bahwa keluarga kami suka menabung. Oh ternyata asumsi gue salah lagi, salah seorang anggota mereka bernama Nadila menyatakan diri juga ingin ikut berperang bersama Ayah ke Polandia bersama teman-temannya. Yah, sungguh mulialah niat anak-anak bersepeda ini. Patut diberi apresiasi.

Kemudian ayah berpesan kepada kami agar dapat menjaga diri baik-baik dan jangan suka jalan-jalan ke BIP agar kami tetap menjadi anak yang rajin menabung. Ayah juga bilang, ia berencana ingin berziarah ketempat makam ibu di Lebanon. Yah, semoga ayah dan ibu bisa dipertemukan kembali.

Detik-detik sebelum keberangkatan Ayah dengan beberapa anak yang ingin berjihad di jalan Allah
Detik-detik sebelum keberangkatan Ayah dengan beberapa anak yang ingin berjihad di jalan Allah

Tidak lama kemudian, ayah pamit ke kami dan ia bergegas menuju polandia bersama teman-temannya yang telah menunggu. Semoga ayah di Polandia nanti nggak sendirian (baca: jomblo) lagi.

Ayah pergi Ternyata kami lupa untuk memperingati ayah untuk melihat kiri & kanan dahulu sebelum menyeberangi jalan.
Ayah pergi
Ternyata kami lupa untuk memperingati ayah untuk melihat kiri & kanan dahulu sebelum menyeberangi jalan.
Sore itu ternyata juga adalah hari terakhir kali kami melihat ayah dan ia pergi untuk selama-lamanya
Sore itu ternyata juga adalah hari terakhir kali kami melihat ayah dan ia pergi untuk selama-lamanya

Nyawa ayah tidak sempat tertolong untuk kami bawa ke RS Borromeus. Ayah tewas di temoat dengan usus terburai. Saat ini, Tono, seorang pengendara sepeda motor yang menabrak ayah sedang dimintai keterangan terkait pembunuhannya terhadap ayah. Pria itu dikenai pasal 359 KUHP terkait kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal. Yah, kami hanya bisa berdoa kepada Ayah semoga amal perbuatannya diterima di sisi Tuhan yang maha esa.

Seisi semesta kemudian berduka saat itu. Banyak terjadi fenomena-fenomena aneh sebelum kepergian ayah. Salah satunya adalah bulan purnama yang muncul 1 hari sebelum ayah meninggal. Kemudian juga ada fenomena aneh ketika kami menegecek twitter ayah (@AYAHIRHAM) satu hari sebelum kepulangannya

Tweet ayah beberapa saat sebelum ia meninggal.
Tweet ayah beberapa saat sebelum ia meninggal.

Lalu, bagaimanakah kelanjutan kehidupan kami di tengah hilangnya panutan bagi kami? Apakah kami masih tetap akan rajin menabung? Tunggu saja episode berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s