Perjalanan Pra-SNMPTN-ku (Part 1)

book-open1Tulisan ini saya dedikasikan untuk calon putra-putri terbaik bangsa yang akan meanjutkanpendidikannya dan akan menghadapi ujian SBMPTN yang akan digelar dalam beberapa minggu lagi. Jujur saja setahun yang lalu saya juga sedang gusar-gusarnya sama seperti kalian. Harap-harap cemas takut tidak diterima di perguruan tinggi yang diidam-idamkan. Masih teringat sekali di kepala saya bagaimana salah satu teman kost tempat saya bimbel dulu dinyatakan lulus di STEI ITB melalui jalur SNMPTN Undangan. Saya sangat bahagia sekaligus terpukul saat itu. Bukan terpukul karena tidak menginginkan ia lulus di tempat yang dia inginkan, melainkan saya terpukul atas masa depan saya yang masih belum jelas sedangkan orang lain sudah. Sementara teman saya telah mendapat kepastian dimana mereka akan ditempatkan dalam 3 atau 4 tahun ke depan untuk menuntut ilmu dan berkarya di bangku perguruan tinggi. Malam itu, saya hanya terdiam dan termenung sedih. Kesedihan ini semakin bertambah dan menjadi-jadi saat saya akan ke kamar mandi dan jendela kamar teman saya tadi terbuka. Saya lihat ia sedang tertidur dengan tenangnya seolah di dalam kepalanya tak perlu difikirkan lagi apa yang harus ia lakukan besok, materi pelajaran apa saja yang harus ia perdalam dan berapa soal lagi yang harus ia bahas besok. Tidak seperti saya yang harus kembali masuk bimbel besok pagi, berkutat dengan soal-soal lagi. Saya sangat sedih, setelah saya kembali ke kamar, saya hanya bisa duduk diam dan bersandar di dinding.

Semenjak saat saya semakin paranoid dengan berita kelulusan orang –orang terdekat saya. Satu persatu teman-teman sekolah saya mulai ada berita kelulussannya di perguruan tinggi favorit. Salah satunya yang tambah membuat saya iri adalah, Yoki, teman sekelas saya yang lulus di Jurusan Sistem Informasi UI. Betapa irinya saya dnegan dia saat itu ditambah Yoki adalah satu-satunya siswa SMAN Binsus yang lulus di salah satu PTN besar seperti UI, ITB atau UGM saat itu. Ini menambah rasa takut tidak lulus SNMPTN tertulis saya saat itu. Bagaimana tidak, SMA saya hanya memiiki satu perwakilan siswa di UI dan tidak ada satupun yang lulus di ITB atau UGM. Yah walaupun saya tidak mendaftar untuk SNMPTN undangan tetap saja saya merasa kecewa. Yoki memang adalah anak yang terkenal pintar di sekolah, di kelas saya saja ia selalu meraih juara 1. Sedangkan saya? Masuk 10 besar saja sudah syukur.

Catatan akademik saya memang kurang baik saat di SMA dulu. Tercatat saya pernah dapat nol pada ulanagan kimia di kelas satu dan kembali dapat nol lagi setelah 2 kali remedial. Prestasi tertinggi saya hanyalah rangking 6 di kelas. Rangking 6 disini jangan kalian samakan dengan rangking 6 di SMA-SMA favorit seperti di kota besar di Jakarta ataupun Bandung. Kualitas siswa Indonesia memang sulit dinyatakan dalam indeks prestasi terlebih setiap lembaga memiliki standardisasi dan indikasi penilaian yang berbeda.

Hidup saya di SMA hanyalah diisi dengan main-main saja. Pergi sekolah hanya untuk bercerita dan bergaul dengan teman-teman atau menghabiskan uang di kantin. Sesekali saya belajar dengan sangat sungguh namun sayang itu hanya bertahan beberapa menit. Saya hanyalah siswa yang biasa saja. Prestasi saya hanya prestasi non-akademis seperti lomba-lomba puisi tingkat kota, ataupun lomba celoteh tingkat provinsi. Sekali saya pernah mengikuti kontes pemilihan duta lalu-lintas namun gagal memperoleh gelar juara. Tidak ada yang spesial memang diantara prestasi yang saya sebutkan tadi, hanya juara-juara 2, 3, dan harapan. Di sekolah saya juga pernah mendapat kasus yang cukup besar. Waktu itu saya pernah mengunggah video saya yang sedang terlambat ke sekolah ke youtube. Saya kemudian dipanggil kepala sekolah untuk mempertanggung jawabkan. Saya saat itu merasa seperti ada konspirasi atas kasus saya yang terkesan dibesar-besarkan. Terlebih saya sampai diancam untuk dikeluarkan dari sekolah jika tidak mengaku bersalah. Saat itu saya masih bersikeras untuk menyatakan diri saya tidak bersalah dan tidak pantas untuk dikeluarkan. Terlebih saya belum pernah memiliki track record kejahatan taupun kasus yang melanggar peraturan sekolah sebelumnya seperti anak nakal lakukan pada umumnya. Hingga kekeras kepalaan saya terhenti disaat orang tua saya dipanggil. Di hadapan mereka saya tak berkutik dan akhirnya mengaku salah. Hari itu juga akhirnya saya membuat sebuah perjanjian dalam surat yang ditanda tangani di atas materi tentang pernyataan saya yang jika melakukan pencemaran nama baik atas sekolah lagi maka saya siap untuk ditindak secara hukum. Baiklah, pak. Sampai sekarang saya sebenarnya masih terpaksa menulis surat perjanjian tersebuat. Tapi ya sudahlah, itu saya jadikan saja pengalaman saya agar saya menjadi manusia normal di SMA. Manusia normal adalah manusia yang memiliki kasus. Ya, setidaknya itu kalimat penghibur saya.

Bagaimana dengan nilai rapor saya di SMA. Duh jangan ditanya lagi ya. Malu rasanya melihat diri saya kembali saat SMA. Saya adalah orang yang sangat pemalas. Saya sering tidak mengerjakan PR dan saya hanya melakukan sesuatu yang saya sukai. Saya tidak pernah belajar di rumah sebelum ulangan. Paling rajin ya saya hanya baca sekilas beberapa menit sebelum ulangan dimulai. Saya sebenarnya untuk ulangan tidak suka nyontek, mungkin karena saya duduknya di depan kali ya. Jadi ya setiap ulangan saya suka mengumpulkan hasil ulangan saya lebih awal dan saya nggak pernah peduli jika saya dapat nilai 50 atau lebih kecil dari 50. Tapi jika saya sudah butuh nyontek untuk menyelamatkan nilai saya, biasanya saya buka buku di laci atau mencari jawaban ulangan di google.

Pernah suatu malam dimana saya ada ulangan fisika besok harinya, saya membuka buku fisika. Aneh bin ajaib saya membaca buku fisika malam itu. tapi lucunya saya malah membaca bab tentang fisika modern malam itu karena saya lihat gambarnya menarik sedangkan ulangan besok adalah tentang (kalo nggak salah) gerak melingkar. Alhasil saya membaca bab fisika modern sampai habis dan ketiduran. Besoknya saat ujian fisika berlangsung ternyata saya tidak mengisi lembar jawaban saya dengan satu coretan pun. Saya benar-benar tidak mengerti sama sekali tentang bab itu karena biasanya saya lebih senang mencoret coret atau ngobrol dengan teman di sebelah saya. Tapi karena malam itu saya belajarnya Fisika Modern jadi munculah ide dalam fikiran saya untuk membuat soal sendiri dan menjawabnya sendiri. Akhirnya di kertas jawaban saya itu saya tuliskan beberapa rangkuman materi tentang fisika modern dan 5 soal berikut jawabannya. Dengan harapan masih akan ada penilaian dari usaha saya tadi. Tapi saya juga tidak tahu bagaimana guru saya menilai kertas jawaban saya tadi. Itu sudah 3 kali saya lakukan selama saya ada di bangku SMA. Sisanya pernah saya lakukan di pelajaran kimia.

Kembali ke cerita, saat itu adalah masa saya terombang-ambing. Saya benar-benar merasa tidak tercerdaskan setelah mengalami 3 tahun masa pendidikan di bangku SMA. Mungkin hanya 30% ilmu yang saya dapatkan saat itu. Nah, lalu pertanyaanya bagaimana saya bisa lulus dari ujian nasional? Jawabanya adalah dengan cara menyontek. Adalah sesuatu yang menjadi rahasia umum juga kali ya tentang adanya penyebaran kunci jawaban di antara peserta ujian nasional. Bahkan yang sangat mengkhawatirkan beberapa sekolah ada yang melibatkan oknum guru. Ya saya terpaksa berbuat curang saat itu dengan konsekuensi saya … (bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s