Antara Ngantuk, Capek Fisik, dan Capek Hati

Ilustrasi Komitmen

Apakah mengantuk dan letih adalah sesuatu yang berbeda? Pertanyaan itu muncul tba-tiba disaat saya sedang terjaga dengan sangat segarnya hingga menjelang pagi. Artikel ini bukanlah sesuatu penjelasan ilmiah, ini hanya pemikiran saya. Menurut pengalaman, saya menyimpulkan kantuk dan letih adalah sesuatu yang berbeda.

Menurut saya, kantuk terjadi ketika otak membutuhkan reses dari aktifitas berfikir maupun koordinasi berada dalam ingin perbaikan atau penataan kembali atas apa yang telah ia terima dari lngkungannya. Karena menurut beberapa riset, saat tidur sebenarnya otak melakukan pekerjaan yang lumayan masih terbilang banyak. Salah satu diantaranya aktifitas archival. Hal ini dilakukan untuk membuat pelokasian ingatan manusia lebih tertata dan gampang menemukannya. Di fase ini juga otak biasanya menyaling-hubungkan ingatan-ingatan yang telah kita dapat seharian. Aktifitas ini mirip dengan bagaimana ketika anda sedang memindahkan atau mengatur file-file yang baru anda download untuk diletakkan pada folder-folder yang telah anda klasifikasikan dengan cara sendiri. Begitulah kerja otak anda dijelaskan secara sederhana walau sebenarnya kerjanya tak sesederhana itu.

Bagaimana dengan letih atau capek? Menurut saya, capek adalah saat ketika tubuh anda tidak teraliri oksigen dengan baik. Keadaan ini terjadi di hampir seluruh sel dalam tubuh anda mengalami penurunan tingkat respirasi yang menyebabkan sel menjadi lemah dan kekurangan energi untuk melakukan metabolisme seperti memproduksi gula, sintesis protein, dan lain-lain. Di saat seperti ini kadang orang banyak yang memilih tidur sebagai usaha normalisasi fungsi tubuh saat letih. Tapi pernahkah anda merasa sangat-sangat letih namun anda tetap masih bisa menjalankan aktifitas dengan normal setelah anda melakukan beberapa aktifitas? Nah itulah yang namanya capek atau letih. Ia tak pernah memaksa tubuh anda untuk tidur. Sedikit pergenagan atau aktifitas apapun itu akan mampu menghilangkannya.

Lalu bagaimana dengan yang namanya capek hati? Nah ini menurut saya adalah isu yang sangat sensitif. Beberapa waktu lalu seseorang pernah berkata kepada saya, berkomitmen itu adalah kombinasi antara kekuatan untuk mampu menerima dan menjalankan sesuatu dengan sepenuh hati. Komitmen juga adalah tentang sekuat apa anda mampu bertahan ketika sedang tidak nyaman dan sekuat apa anda mampu mempelihara kebahagiaan untuk tetap anda dalam keberjalanan komitmen yang telah anda buat. Misal ketika anda menjalin sebuah hubungan pernikahan, pacaran, atau apapun itu. Di awal ketika anda baru saja memilih untuk berkomitmen anda akan merasakan segala keindahan muncul secara bergerombol, tapi lambat laun anda akan mulai menemukan beberapa sifat asli yang satu per satu mulai muncul. Di saat itulah sebenarnya komitmen anda benar-benar sedang diuji. Biasanya disaat seperti ini akan muncul beberapa alasan di dalam fikiran anda untuk melupakan komitmen anda spert sudah tidak cocok, jenuh, atau apapun itu. Tapi komitmen adalah komitmen, melarikan diri bukanlah sebuah jalan keluar. Di saat seperti ini fikiran anda mulai menerjemahkan adanya capek hati. Banyak diantara kita yang memilih untuk lari dari komitmen yang telah dibuatnya dan mencari sesuatu yang laebih baik. Dan tahukan anda sebenarnya fase ini akan terus berulang. Ketika anda melarikan diri dan menemukan yang lebih baik, lama-lama juga anda akan merasakan yang namanya capek hati tadi kembali. Lalu apa yang harus kita sebenarnya perbuat? Bertahanlah.

Saya pernah menemukan sebuah kutiban dalam film Jomblo besutan sutradara Hanung Bramantyo dimana Ringgo berkata dalam salah satu adegannya kepada pacarnya saat pacarnya minta putus, “Kalau kamu terus mencari yang terbaik mungkin orang yang akan menjadi pacar kamu berikutnya juga akan kamu putusin.” Ringgo benar bagi saya. Kadang kondisi psikologis yang terbentuk saat kita suka berganti pasangan yang hanya untuk menemukan yang terbaik membuat fikiran kita berfikir terus membandingkan setiap pasangan-pasangan yang kita “coba”. Ujung-ujungnya baru menemukan yang menurut kita anggap tepat adalah saat kita baru jenuh untuk mencari. Sebenarnya saya sangat ingin di saat pernikahan saya nanti, saya menikahi wanita yang pertama kali saya cintai dan saya juga adalah orang yang pertama kali ia cintai agar kami saling tahu betapa sempurnanya sosok di masing-masing pasangan. Tentunya lagi pasti tidak akan ada bayang-banyang mantan pasangan yang sering menjadi standar acuan atau hantu yang terus mengganggu fikiran. Namun sangat sayang, saya pertama kali jatuh cinta lebih awal sebelum saya mimikirkan pemikiran seperti ini. Namun saya sangat bersyukur telah menemukan orang yang sangat saya cintai seperti sekarang, ia hampir sempurna di mata saya dan memang seharusnya begitu. Saya selalu menyesali kenapa saya tidak menemukannya di awal sekali agar ia menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidup saya. Saya sangat mencintai ia sebagaimana ia sangat mencintai saya juga. Saya mengatakan yang indah seperti ini bukan berarti apa yang terlihat sekarang dalam hubungan saya hanyalah yang indah. Kadang kami dan beberapa masalah dan konflik, saya tak menyangkal itu. Tapi itu semua tertupi dari bagaimana kami saling berusaha melakukan adaptasi dan berusaha menerima kekurangan satu sama lain. Lalu bagaimana ketika anda sedang merasakan kejenuhan dan ketidak nyamanan yang sangat hebat atau bahkan mungkin kekecewaan yang sangat berat. Ingatlah kembali komitmen anda, kenyamanan dan kebahagiaan itu adalah sesuatu yang timbul dari dua hal: lingkungan dan dalam diri sendiri. Ketika anda tidak mendapatkan itu dari lingkungan anda, anda masih punya apa yang namanya sugesti. Sugesti dapat mengontrol apa yang harus anda lakukan ketika anda mendapatkan sebuah perlakuan. Hati-hati dengan pemikiran negatif, sesungguhnya itu dapat menimbulkan subjektifitas respon yang negatif juga. Andalah sebenarnya yang mengendalikan seperti apa anda, bukan lingkungan.

Advertisements

One thought on “Antara Ngantuk, Capek Fisik, dan Capek Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s