Aku ingin menunggu tanggal 28 tanpa tanggal 27, Tuhan

Entah kenapa waktu di malam hari ini berjalan selambat-lambatnya. Seolah jarum jam tepat akan berhenti. Sesekali aku bahkan bisa melihat pergerakan detik jarum jam di kamarku dengan sedetil-detilnya. Aku bisa melihat bagaimana jarum terkecil di lingkaran jam dinding itu bergerak dari 1/4 detik menuju 1/2 detik dan akhirnya sampai di 1 detik. Aku melihatnya dengan sangat jelas. Waktu benar benar berjalan lambat malam ini.

Tak ada yang tahu pasti apa yang aku rasakan saat ini. Aku sedang rindu tapi rasanya sangat tidak enak, ini sangat menyiksa. Sesekali aku berusaha berdiri aku tidak kuat. Aku merasa lemas selemas-lemasnya. Sendiku seolah sedang tak menyatu. Badanku rasanya berat sekali seperti ada sesuatu dipundakku yang sangat besar yang memaksaku untuk terus menempelkan badanku ke dinding di kasurku. Beberapa saat kemudian aku mulai merasakan kelopak mataku panas. Seperti ingin demam, tapi aku sadar beberapa saat yang lalu aku sangat bugar berjalan, berbicara, bahkan sesekali aku melompat riang karena aku tahu besok adalah hari spesial buatku.

Aku hanya bisa diam menyasikan citra-citra yang kusimpan jauh di dalam perasaanku. Citra yang membuatku terkadang bahagia, terkadang marah, terkadang sedih. Jari-jariku tak bisa lagi menjelaskan apa yang aku rasakan melalui pesan singkat. Aku tahu ini sangat berat. Aku sadar kemudian beberapa saat setelah aku merasakan kehilangan sesuatu. Aku merasa kehilangan kamu malam ini entah kenapa walau sebenarnya aku tak akan pernah kehilanganmu.

Aku sadar, ini yang namanya rindu. Kata siapa rindu itu indah, enak, dan bisa buat perasan bahagia? Orang yang bilang rindu itu enak adalah orang yang belum pernah rindu sebenar-benar rindu menurutku. Rindu yang kurasakan ini benar-benar tak hanya rindu yang dirasakan di perasaan saja. Aku merasakan rinduku dalam aliran darah yang terletak beberapa mikro meter dibawah permukaan kulitku. Metabolismeku tiba-tiba kacau. Beberapa kelenjar tak memproduksi hormon dengan baik. Mataku sayu, kelopaknya seolah berusaha menutupi permukaan putih yang mulai memerah akibat penebalan pembuluh darah. Bulu mata bawahku basah setelah air dari atasnya mengucur dengan hebatnya. Jantungku? Seperti ada sesuatu di atrium ang menyumbat peredaran darah dan menghambat pompa yang dilakukan jantung untuk membuat agar setiap organ tubuhku tersaluri oksigen yang cukup. Belum lagi nafasku berat. Aku tak tahu sampai kapan aku mersakan seperti ini. Sesuatu yang hebat sedang terjadi padaku malam ini. Jika ini benar-benar rindu aku, izinkan aku menurunkan tekanannya agar aku tak terlalu tersiksa.

Tanpaku sadar tulisanku sekacau ini. Iya, aku sedang sakau, kacau. Aku ingin menunggu tanggal 28 tanpa tanggal 27, Tuhan.

Advertisements

2 thoughts on “Aku ingin menunggu tanggal 28 tanpa tanggal 27, Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s