Buniwangi Oh Buniwangi: Part I

Beberapa hari yang lalu saya dan beberapa teman saya lainnya mengalami pengalaman yang sangat berharga. Dalam sebuah kegiatan akdemik yang dikemas sedemikian rupa selama 4 hari 3 malam kami mendapati nilai-nilai baru yang belum pernah kami dapatkan. Banyak yang bilang untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang tertusuk sebuah pedang adalah menjadi orang tersebut, jika hanya membaca penjelasan orang itu dalam sebuah lisan ataupun tulisan maka kita tidak akan pernah bisa merasakannya hanya membayangkannya. Inilah yang kami lakukan selama 4 hari tersebut. Melalui kegiatan ekskursi yang merupakan sebuah penilitian yang ditugaskan kepada kami dalam mata kuliah Study of Human Society saya merasakan sebagian apa yang dirasakan oleh masyarakat Desa Buniwangi – sebuah Desa kecil berpenduduk sekitar 3000 jiwa di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Cianjur.

Sebenarnya ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh lebih kurang 200an mahasiswa, namun kami dibagi ke dalam beberapa kelompok yang diseber ke beberapa desa di Kecamatan Pagelaran ini, saya kebetulan mendapat tugas di Desa Buniwangi. Religius, tentram, dan sejuk, itulah tiga kata pertama yang terlintas di kepala saya mengenai desa ini. Sawah-sawah irigasi dan tadah hujan tersebar dimana-mana. Buniwangi terletak di kaki sebuah bukit yang hijau sehingga desa ini menurut saya sejuk, udaranya masih terbebas dari polutan karbon monoksida yang banyak dijumpai diperkotaan. Sepanjang mata memandang pematang sawah bertebaran diantara padi-padi yang sebagian menguning dan sebgaian lagi hijau dan baru saja ditanam. Sawah-sawah disini memang tidak memiliki siklus panen berbeda. Sebagian sawah diairi secara irigasi dan ada yang tadah hujan. Susunan sengkedan yang tersusun dari atas kebawah menyesuaikan kontur menambah keindahan Desa Buniwangi ini menjadi lebih memiliki nilai.IMG_2358

Masyarakat Buniwangi yang saya lihat sangat ramah. Tidak seperti diperkotaan disini masyarakatnya sangat ramah, sering sekali saya berjalan di sekitar pematang sawah saya disapa oleh warga hanya untuk bertanya basa-basi mau kemana walaupun saya sama sekali tidak mengenali mereka, hal ini membuat saya sesekali menyapa lebih dulu setiap berpapasan dengan warga. Selain ramah, masyarakat Buniwangi sangat religius dan menjungjung tinggi nilai agama di setiap struktur dan sistem sosialnya dalam hal ini Islam adalah agama utama dengan 100% warganya islam. Pernahkah anda melihat semua warung tutup dan jalanan sangat sepi disaat maghrib tiba? Disini yang seperti itu ada. Hal ini semakin menambah kesan penjunjungan nilai gama yang sangat tinggi bagi saya terhadap Buniwangi. Mungkin anda akan mengira disini orang yang memiliki sawah banyak dan rumah besar atau mungkin jika dia adalah kepala desa maka akan lebih dihormati. Awalnya saya juga berfikir begitu, ternyata saya salah besar, tokoh agamalah yang lebih dihormati. Begitulah Buniwangi menceritakan sifatnya kepada saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s