Kisah No Option

Batu yang di pinggir kali yang runcing dan memiliki bentuk yang tegas juga lama-lama akan memiliki permukaan yang lebih lembut setelah beberapa lama dialiri derasnya arus. Tapi, sejujurnya aku tak ingin menganalogikannya menjadi seperti ini. Aku ingin menjadi air sungai yang mengairi tumbuhan-tumbuhan di sekitarnya dan menjadi bermanfaat karena telah membuat tumbuhan-tumbuhan itu tumbuh subur. Aku ingin menjadi air yang tidak mengikis, menghabiskan, ataupun menghanyutkan dan membuat sebuah kehilangan.
Jika aku ditakdirkan seperti angin, biarkanlah aku menjadi angina yang membantu proses penyerbukan bunga. Jika aku ditakdirkan sebagai cahaya, biarkanlah aku menjadi cahaya yang berguna di setiap saat oleh tumbuhan dan menari bersama klorofil untuk berfotosintesis. Jika aku adalah hangat biarkanlah aku yang menghangatkan manusia-manusia yang sedang kedinginanan di musim dingin. Ini hanya masalah analogi kan? Atau aku yang terlalu khawatir akan keberadaan sebuah imbas bernilai negatif. Lalu setelah itu akan jadi apa? Aku dibiarkan menjadi gaya F yang memiliki besaran tidak lebih besar beberapa newton dari gesekan statis benda yang ini aku beri percepatan. Mungkin disaat itu yang bermasalah buakan massanya, tapi surface yang terlalu kasar. Aku terlalu mendorongnya jauh dengan gaya yang sangat kuat hingga sampai pada permukaan kasar dimana gaya gesek ststisnya menjadi beberapa kali lebih besar.
Aku yakin jika aku bisa mendapatkan gaya yang lebih besar aku akan melalui permukaan kasar ini dan tiba pada permukaan yang sedikit lebih licin dari sebelumnya sehingga tercipta percepatan yang sangat besar. Lalu dengan percepatan itu kita akan jalan-jalan melihat keindahan. Keindahaan yang sudah ditakdirkan tuhan sebelum semesta diciptakan.
Saat ini aku tidak mampu melihat ke depan massa jenis dan massa yang besar mengakibatkan volume yang sangat besar juga dihadapanku. Sisi terluasnya ada tepat di depan mataku sehingga menghalau pandanganku. Apa mungkin bergerak dengan menutup mata akan menjadikan ini lebih baik? Sepertinya begitu. Orang bilang, mata hati lebih tajam. Semakin tajam ketika kau menutuk ke lima inderamu.
Lalu yang kulakukan sekarang? Menunggu atau bergerak? Entahlah, manusia diciptakan Tuhan dengan segala banyak kelebihan dan keterbatasan. Imbang, no option.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s