Long Journey Part I

Hari ini 5 maret 2013, hari kedua UTSku. Bandung malam ini indah sekali. Orang-orang berjalan dalam takdirnya masing-masing, tak terlecuali aku. Aku baru saja selesai berolahraga dengan teman-teman kampusku dan aku pulang lebih awal hanya sekedar untuk mendengarkan suaramy lebih awal dari balik perangkat elektronik. Perjalanan pulangku aku lakukan dengan berjalan kaki. Aku berjalan di trotoar-trotoar dengan lebar satu hingga 2 meter. Diatasku berdiri pohon-pohon tua saksi bisu romantisme orang-orang lama. Di kedua telingaku kusematkan dua penghasil suara berwarna putih. Mengalun simfoni merdu dari orang-orang yang tak mengenalku. Hingga satu ketika aku kejedug dahan sebuah pohon rindang. Lalu aku teringat akan dirimu. Ini bukan tanda mantramu lemah, hati dan fikiranku saja yang terlalu fokus padamu. Fokus ini sama sekali tak bisa dibagi pada jalanan, lubang, ataupun pepohonan. Disaat seperti ini aku menyadari keterpengaruhanku pada kamu dalam apapun. Lalu, aku berfikir satu hal. Aku khawatir fikiran, perasaan, dan ragaku menyerah dengan jarak dan waktu ini. Aku takut mereka kelelahan kehabisan bahan bakar. Mencintaimu butuh tenaga besar karena cinta yang dihasilkanpun sangat besar walau nyatanya aku tak pernah menyadari hal ini. Semuanya sudah punya skenario dalam daur siklik di alam bawah sadar. Tapi aku kenal siapa diriku. Hatiku tak akan pernah menyerah, dari dulunya sudah begitu. Suara dan matamu berperan sebagai katalis dalam setiap reaksiku yang terus mempercepat siklus ini. Itu semua membuat aku candu. Ada serpihan tulang rusukku padamu. Ia berperan sebagai pusat gravitasi terbesar yang membuat aku tetap berevolusi dalam orbit yang kamu buat sendiri seperti spiral. Kelak dari orbit itu aku akan jatuh dalam dirimu, ke dalam tubuhmu. Pada saat itu, Aku akan kehabisan energi untuk mempertahankan gerak sentripetalku. Aku terjatuh dalam rangkulmu dengan gravitasi yang mahadahsyat. Gesekan atmosfir dan jatuhnya aku menciptakan kalor dan memberikan kita hangat. Disaat seperti ini aku mendapatkan gravitasi maksimalmu. Jika aku membayangkannya aku akan lupa segalanya. Aku sedang sakau, aku lupa dunia nyataku. Hingga aku sadar setelah berceritakan yang kurasakan ini semua, aku telah berjalan sejauh 4 km. Aku lupakan laparku, letihku, hingga kantukku. Kau adalah stimulan, bekerja jauh ke dalam fikiranku tanpa aku sadar. Kembali lagi pada apa yang telah aku katakan, orang-orang telah dan akan bergerak menjalankan peran yang disebut takdir, termasuk aku-kamu-kita. Lalu aku aku sadar satu hal akan kebesaran Tuhan. Mungkin saat Tuhan membuat acara pembagian jodoh pada jauh sebelum aku ada di dunia, kamu yang hadir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s