Relativitas Perasaan, Waktu, Perpisahan, dan Segalanya

Seperti biasa, selalu saja ada hujan di setiap hari kesedihan kita teman. Tuhan memang menyampaikan perasaan kita semua hari ini seharian melalui alam.
Aku yakin sebenarnya ini bukan sebuah kesedihan, setiap orang mengartikan hari ini dengan definisi masing-masing. Biarpun ada yang menghiasi hati dengan sedih, tapi the show must go on, Kawan.
Dalam tangisanku sepanjang hari aku bahkan merasa belum puas, Teman. sekalipun mataku tak mampu lagi mengeluarkan air mata, tapi hati yang melakukannya. Ketidakpuasanku berada pada fikiranku yang dulu berfikir bahwa tiga tahun adalah masa yang lama. Tapi apa? Argumenku salah! Mungkin sebaiknya sebelum berfikir seperti itu aku belajar banyak dulu kepada Einstein tentang apa arti sebuah relativitas waktu. Ini semua terasa tak sampai tiga hari.
Tadi, Dina bilang kepadaku “Acara perpisahan hanyalah formalitas, tak ada dari kita yang benar-benar berpisah.” Kalimat itu menjadi bayang-bayangku di dalam perjalanan ke Padang kala aku duduk di belakang supir mobil ini dan berdiam. Sejuta pertanyaan pun hanya aku simpan.
Lantas sekarang apa yang harus kita lakukan ditengah kehilangan “semu” yang terus mengekori bayangan dari belakang ketika kau berjalan ke arah matahari terbit?
Analogiku begini, kronologi waktu dipisah oleh titik tengah yang kita sebut dengan masa kini. Jika bergerak kita kekiri dari masa kini kita akan menemui garis waktu masa lalu yang terdiri dari titik-titik kenangan. Jika sebaliknya, saat kita bergerak ke kanan ada garis masa depan yang terdiri dari titik-titik impian. Kinilah saatnya kita menggeser titik acuan ke kanan agar impian dapat dijadikan masa kini ketika nanti kau mewujudkannya. Dan kemudian bersiaplah untuk melihat semua titik-titik impian sepenjang garis bilangan yang panjangnya tak terhingga itu satu persatu berubah menjadi kenyataan indah yang akhirnya membuatmu bangga untuk dikenang.
Analogi yang rumit memang, tapi serumit itulah perasaanku sekarang untuk tidak menemui kalian bersama seragam putih abu-abu kebanggaan.
Lihatlah jalan ke depan, itu bukan lagi Gapura masuk kelurahan Purnama ataupun gerbang sekolahan.
Berdiri di depanmu gapura lorong waktu yang akan membawamu ke masa depanmu.
It’s not the end. It’s just the beginning!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s